Responsive Ads Here

Wednesday, November 14, 2018

URAIAN SINGKAT TENTANG NEGERI YANG BERNAMA GAYO LUES


URAIAN SINGKAT TENTANG NEGERI YANG
BERNAMA GAYO LUES


1. Kekejurunan Patiambang
Daerah yang sekarang dinamakan Gayo Lues dahulu dikenal dengan nama daerah Kekejurunan Patiambang.

Di daerah Gayo, mula-mula terdapat empat daerah kekejurunan yaitu Bukit, Syiah Utama, di daerah danau, Linge di daerah Isaq, serta Patiambang di daerah Gayo Lues. Kemudian bertambah dua lagi yaitu Bebesen di daerah Bebesen sekarang dan Abok di Lukop Serbajadi. Raja / Sultan Aceh memberi derajat yang sama kepada kejurun-kejurun pedalaman ini dengan kejurun-kejurun yang terletak di daerah pesisir. Kepada kejurun di pesisir diberi S.K. hitam di atas putih, yang disebut sara kata dan kepada kejurun-kejurun pedalaman ini diberi sebuah bawar yaitu sejenis pisau komando sebagai tanda kebesaran. Apa sebab kapada kejurun pesisir diberi S.K. hitam di atas putih dan kepada kejurun pedalaman diberi bawar tidak begitu jelas. C.S.H dalam bukunya Het Gajoland en Zijne Bewoners menyebutkan bahwa :
“Kalau pada pimpinan di pesisir Aceh diberikan sara kata atau akta penetap, maka kepada kejurun di Gayo mungkin waktu itu dianggap masih belum memiliki pengetahuan tulis baca, maka masing-masing diberikan bawar, sejenis keris sebagai tanda kebesaran. Para kejurun ini sebagai mana di pesisir Aceh, juga pada setiap upacara resmi tetap memakainya sebagai symbol sekaligus sebagai pakaian kebesaran terselip dalam satu sarung yang panjang”.(1)
Fungsi kejurun ada dua, yaitu ke luar dan ke dalam. Ke luar terutama menghadap Sultan, baik untuk urusan pemberian upeti dan juga bila diperlukan atau dipanggil. Ke dalam urusan dengan reje-reje misalnya menyelesaikan perselisihan antara reje dalam daerah hukum kejurun.
C.S.H dalam buku tersebut di atas menyebutkan tentang fungsi kejurun sebagai berikut :
Fungsi kejurun pada umumnya adalah menyelesaikan sesuatu yang oleh reje-reje sendiri tidak mampu melaksanakannya, terutama untuk mewakili Tanah Gayo di forum luar yaitu menghadap kepada daulat. Maka kejurunlah yang melakukan hal ini sebagaimana seorang presiden dari satu persekutuan di antara kerajaan-kerajaan mini yang ada di Tanah Gayo.
Demikian juga untuk bertindak ke dalam, kejurun harus dapat menyelesaikan perselisihan-perselisihan antara para reje yang ada di daerahnya, misalnya antara anak buah reje yang satu dengan reje yang lain tidak dapat didamaikan antara sesamanya. Selanjutnya untuk menentukan sesuatu pemukiman baru, terutama kalau ada perpindahan keluarga dari tempat lain, diperlukan persetujuan dari kejurun. Untuk ini kejurun berhak atas sembah, bentuk persembahan sebagai tanda kesetiaan di bawah kejurun yang ada. Di samping itu untuk menobatkan seorang reje, atau untuk meresmikan sesuatu kesatuan yang baru yang mungkin karena terpecah dari suku asalnya, atau karena pejabat yang lama meninggal atau oleh karena kepada pejabat yang lama tidak patuh lagi. Untuk semua ini harus ada doa restu (dowa) dari kejurun. Di samping itu kejurun masih memerintah sebagai reje dalam klennya.(2)

2. Susunan Pemerintahan
Susunan Pemerintahan Kekejurunan Patiambang diatur sebagai berikut :
Pucuk pimpinan tertinggi dipegang oleh kejurun, dibantu oleh empat reje dan delapan reje cik.
Keempat Reje adalah :
1. Reje Gele,
2. Reje Bukit,
3. Reje Rema,
4. Reje Kemala (Cane Uken).
Kedelapan Reje Cik adalah :
1. R.C. Porang,
2. R.C. Kutelintang,
3. R.C. Tampeng,
4. R.C. Kemala Darna (Rempelam),
5. R.C. Peparik,
6. R.C. Penosan,
7. R.C. Padang,
8. R.C. Gegarang.
Menurut CSH : reje ini mempunyai pembantu-pembantu sebagai berikut :
Reje (pengulu) adalah orang pemegang adat (edet) di dalam batas-batas Republik-mini yang dikuasainya. Dia menerima kedudukan ini dari pendahulunya yang sudah meninggal dan dengan persetujuan saudere, sebelum dia ditunjuk menjabat pangkat ini bersama-sama dengan mereka semuanya. Ada dua pembantu yang ikut mendampinginya.
1. Tue atau Petue. Ini adalah satu jabatan yang biasanya diwarisi turun-temurun, ditunjuk oleh reje bersama dengan saudere. Dia mengatur dan melaksanakan hal-hal yang ringan-ringan, sedangkan hal-hal yang besar ia serahkan penanganannya kepada reje. Di tempat kediaman saudere yang tidak satu kampung dengan reje, kedudukan Tue bisa menjadi bedel.
2. Demikian juga dengan jabatan ketiga, bukan saja dia harus berpengalaman dan bijaksana, akan tetapi diperlukan seorang ahli di dalam bidang agama islam, disebut Imem. Imem berada di bawah control adat. Pelaksana upacara pernikahan dan upacara kematian beserta segala sesuatu yang berkenaan dengan kedua hal itu, yang disebut Kerje murip, kerje mate, sepenuhnya ditangani pelaksanaannya oleh Imem, walaupun demikian pada pengurusan tingkat penentuan akhir juga berpulang di tangan reje.
Perangkat pemerintah yang menangani masing-masing permasalahan di kalangan masyarakat Gayo, nyatalah bagi kita bahwa skema dari ketiga pejabat di berbagai negeri ini sering tidak sama, berubah-ubah atau ada yang lebih meluas. Umpamanya di Gayo Lues, jabatan reje dipecah lagi di dalam tiga bagian yaitu, Cik, Wakil, dan Mude. Sedangkan cik dan wakil melengkapi seorang pelaksana di bawah bukan hanya Reje Cik, tetapi keempat pejabat lainnya, mude, wakil dan katip menugaskan lagi seorang tue.
Dalam penelitian, masih ditemukan perbedaan-perbedaan setempat, tetapi tiga unsur yang disebut tadi adalah juga merupakan dasar untuk membangun yang lainnya.
Setiap pelaksana dari satu fungsi kekuasaan tidak terlepas dari pengamatan dan bantuan oleh seseorang atau lebih sanak saudara, ini tertera dalam ungkapan-ungkapan adat sebagai berikut : reje mubangta, imem melebe, tue mukatir, yang artinya raja mempunyai beberapa bangta (pembantu), imem mempunyai lebe, tue memiliki katir.(3)

3. Sistem Pemerintahan
Sistem Pemerintahan Kekejurunan Patiambang hampir bersamaan dengan daerah-daerah lain di daerah Aceh, mempunyai ciri-ciri sendiri yaitu berdasar hukum adat yang bersumber dan berlandaskan hukum Islam, berdasarkan Al Qur’an dan hadis.
Kedudukan kejurun, reje, reje cik, adalah sebagai pemangku adat artinya kedudukan mereka bertiga di atas adalah menjalankan dan memelihara berlakunya hukum adat dalam menjalankan pemerintahan.
Kekuasaan berpusat pada reje namun tidak ada pembagian kekuasaan. Walaupun demikian reje tidak dapat berbuat sewenang-wenang karena reje terikat dengan hukum adat yang diawasi secara ketat oleh seorang imam. Imem bertugas mengawasi sejauh mana hukum adat sesuai dan tidak bertentangan dengan Islam. Bila bertentangan maka hukum Islamlah yang dipedomani. Namun demikian ada juga kejadian hukum Islam terkesampingkan dan adatlah yang dipakai. Hal ini sering terjadi bila reje tidak begitu dalam ilmu agamanya, atau berlaku sewenang-wenang.
Seperti disinggung di atas kekuasaan reje bukan tidak terbatas. Pembatasan ini di daerah Gayo terkenal dengan istilah edet :
Sudere genap mupakat
Urang tue musidik sasat,
Pegawe muperlu sunet
Pengulu museket sipet, artinya :
Sudere artinya rakyat banyak, fungsinya genap mupakat. Golongan ini dapat disamakan dengan badan pekerja. Golongan ini harus bersatu padu melaksanankan segala tugas untuk kepentingan bersama.
Urang tue perwakilan yang anggotanya diambil dari orang tua yang telah banyak pengalaman. Fungsinya musidik sesat meneliti segala pekerjaan yang bertujuan untuk kesejahteraan bersama dan juga sebagai penasehat adat untuk reje.
Pegawe golongan masyarakat yang anggotanya diambil dari para ahli dalam pertukangan, pertanian, perkebunan dan lain-lain. Fungsinya muperlu sunet artinya dapat membedakan halal dan haram dan apa yang harus dikerjakan untuk kesejahteraan bersama.
Pengulu pemimpin kampung yang diangkat berdasarkan pemilihan secara langsung yang fungsinya musuket sipet, memimpin masyarakat secara adil tidak berat sebelah, nyuket kuare gere naeh rancung nimang kunecara gere naeh alihen.
Pemerintah di Gayo Lues bersifat otonom tanpa banyak dicampuri oleh Sultan Aceh. Sebagai contoh pelaksanaan hukuman mati. Seharusnya pelaksanaan hukuman mati harus ada izin dari sultan tetapi kenyataannya hukuman mati dilaksanakan juga tanpa sepengetahuan sultan, dengan syarat nanti dileporkan kepada sultan.
Hubungan pemerintah di Tanah Gayo dengan Pusat Pemerintahan Kerajaan Aceh, hanyalah dalam soal-soal penting yang menyangkut kepentingan bersama dan menyangkut kepentingan umum Kerajaan. Hubungan biasa adalah hubungan misalnya dalam memberikan “upeti” yang dilaksanakan setiap waktu yang ditetapkan oleh Sultan. Hal-hal yang menyangkut kepentingan umum seperti peperangan melawan musuh dari luar, seperti yang terjadi dengan perang Aceh 1873, maka seluruh rakyat Gayo berikut rajanya serentak terjun dalam perang melawan kolonialis Belanda yang secara langsung dihadapi bersama.(4)

4. Penghasilan Para Pejabat
Penghasilan-penghasilan reje adalah sebagai berikut :
Salah = denda karena pelanggaran edet. Seperti di daerah Aceh, inipun merupakan sumber terpenting bagi pemuka-pemuka itu. (het Gajoland halaman 82) ;
Pemasukan atau kemasuken = hadiah untuk menjadi anggota suku lain yang dibayar oleh orang yang diterima itu kepada Reje baru, yaitu secara resmi lime teil atau sepuluh teil dan di samping itu disembelih seekor kambing atau kerbau. (het Gajoland halaman 88) ;
Peceren = hadiah kepada Reje dalam hal ini pengucilan dari masyarakat kesukuan seseorang anggota suku atau keluarga buar (saudere), jumlah berubah-ubah antara delapan dan sepuluh ringgit, nominal lime teil. (het Gajoland halaman 87) ;
Pendis = uang yang dibayarkan (beberapa ringgit) kepada pejabat-pejabat dalam hal ini pengangkatan seseorang budak. (het Gajoland halaman 269) ;
Penesah = uang penesahan (5 – 10 ringgit yang dibayarkan kepada Reje oleh ayah angkat dalam hal ini terjadi pengangkatan (menyahan) supaya Reje mengakuinya sebagai anggota suku atau keluarga. (het Gajoland halaman268) ;
Penangkap = uang (resminya berjumlah 5 teil) yang dibayarkan kepada Reje sebagai merestui penerimaan seorang menantu (biasanya seorang asing) ke dalam hubungan kesukuan. (het Gajoland halaman 270) ;
Pekeberen = uang (beberapa ringgit) yang dibayarkan kepada Reje janda yang hendak kawin dalam hal ini terjadinya perkawinan dengan seorang janda (ngalih) jika seorang laki-laki hendak kawin itu secara resmi menyatakan maksudnya. (het Gajoland halaman 82 pada catatan) ;
Penomen = uang (biasanya berjumlah 10 ringgit) yang dihadiahkan kepada Reje supaya ia tidak mengunakan haknya untuk mengadili sesuatu perkara secara pribadi dan menyerahkan urusannya kepada seorang tue (yang lebih murah). (het Gajoland halaman 82) ;
Tingiren = uang yang dibayarkan kepada Reje dalam sesuatu urusan tertentu untuk memperoleh restunya (keizinannya) (meniro doa) umpamanya jika hendak berperang, mendirikan kampung baru, membunuh orang yang bersalah dalam hal ini menuntut bela, dalam hal perkawinan, pindah rumah ke kampung lain, menyembelih hewan korban, menanam batu nisan, dsb.
Cap ku Reje = cap untuk Reje, yaitu dada (dede) kerbau yang disembelih dalam kenduri yang diserahkan kepada Reje, sebagai gantinya kadang-kadang dibayarkan uang seringgit (regeni dede). Bandingkan ‘het Gajoland halaman 82 dan 274 ;
Usur = (bahasa Arab : ‘usyr yaitu sepersepuluh) – nama untuk berbagai-bagai cukai :
1. Uang jerih payah sebanyak 1 – 2 ringgit yang diserahkan oleh ayah pengantin laki-laki kepada Reje pengantin perempuan dalam hal ini dilakukan sesuatu pernikahan (juga di namakan cap usur dan dewasa ini berjumlah f 1,50 ; di Tanah Alas dinamakan adat kawin). Bandingkan ‘het Gajoland halaman 83 dan 274 ;
2. Cukai yang di masa dahulu dibayarkan kepada tempat-tempat cukai Aceh sebagai pajak pengeluaran kerbau (juga dinamakan Edet) ;
3. Pajak yang menurut adat harus dibayarkan oleh orang-orang Gayo kepada Sultan Aceh, dikatakan, bahwa usur itu harus dibayarkan tiga tahun sekali ;
4. Pajak penjualan candu secara kecil-kecilan (seringgit untuk setiap bulatan).
Penghasilan-penghasilan utama para imem ialah :
Ha’ nikah atau jari malim = jerih payah (dewasa ini berjumlah f 1,50) yang dibayarkan oleh ayah pengantin perempuan dalam hal sesuatu pernikahan. (het Gajoland halaman 274) ;
Ha’ telekin = jerih payah (kira-kira f 0,25) untuk membacakan ‘talkin’ seseorang ;
Sedekah atau penyerahen atau permungen = uang atau hadiah yang dibayarkan oleh pengantin perempuan dan laki-laki kepada masing-masing imem mereka sebagai jerih payah karena telah mengajarkan mereka tata-cara perkawinan selama beberapa hari sebelum dilangsungkan pernikahan(berguru). Lihat ‘het Gajoland halaman 275.
Jakat (Zakat) = yang dibagi-bagikan oleh imem kepada mereka yang mempelajari kewajiban-kewajiban agama yang dinamakan fakir miskin.
Dari pitrah (Fitrah) = ia menerima lebih kurang 1/3 bahagiannya (‘het Gajoland halaman 86).
Oleh karena tue mendampingi reje dalam tugas-tugas jabatannya, maka jelaslah bahwa iapun menerima penghasilan yang diadatkan seperti yang diperoleh Reje, namun peraturan yang terperinci mengenai hal itu tidak ada. (‘het Gajoland halaman 85). (5)


5. Penggantian Kejurun dan Reje
Penggantian kejurun dan reje hampir sama. Kejurun yang mangkat biasanya digantikan oleh anak laki-laki yang tertua. Demikian juga penggantian reje. Tetapi tidak secara otomatis masih ada pertimbangan lainnya.
Sebagaimana telah kita lihat di bagian-bagian terdahulu, bahwa Tanah Gayo tidak lebih dan tidak kurang, sama saja dengan keadaan di Aceh, bahwa semua jabatan atau pangkat cenderung diwariskan kepada kerabatnya sendiri, tidak peduli apakah mempunyai kemampuan dan memiliki pengetahuan, yang sebenarnya adalah syarat yang mutlak harus dimilikinya. Yang pasti adalah pewarisan jabatan reje-reje, terutama ‘jabatan kejurun’. Seorang kejurun atau reje akan digantikan oleh anaknya ; namun tidak harus oleh anak yang tertua, akan tetapi oleh seorang yang memiliki tanda-tanda bertuah (mutuah). Siapa yang bertuah, dialah dengan kesepakatan saudare bersama-sama, yang ditentukan dengan bantuan ramalan seorang guru – bukan guru di bidang agama, tetapi ahli nujum yang pandai melihat tanda-tanda. Mengertilah kita bahwa sedikit ada syarat bagi seorang calon kejurun, dan reje, yaitu lebih ditentukan oleh faktor tuah yang dimilikinya. Memilih si bungsu (bensu) adalah juga merupakan suatu kehormatan dari pada anak yang tua (si ulubere), begitu juga halnya dengan pembagian harta pusaka, biasanya anggota famili lainnya memberikan perhatian kepada sibungsu. Anak di bawah tidak boleh memegang jabatan, dalam keadaan demikian ini biasanya anak tertualah mendapat kehormatan terlebih dahulu untuk bertindak sebagai Bedel (wakil).
Andaikata seorang kejurun atau seorang reje tidak mempunyai putra seorangpun, ini tergantung lagi kepada tuah, siapa di antara salah seorang sepupu atau keponakan atau putra saudara yang telah meninggal dunia, yang mampu menyandang jabatan ini (sahan si nguk mah nahma).
Kalau seorang reje meninggal dan sebelum penguburan berlangsung dapat diangkat seorang penggantinya, maka sang pengganti pejabat itu bersama-sama diarak ke kuburan oleh semua famili serupa dengan jenazah. Di kuburan orang menempatkannya di kepala atau di kaki kuburan dan kemudian setelah selesai penguburan kembali diarak pulang ke rumah. Ini disebut iperarakan. Acara penggantian ini disebut mawen (ipawen) artinya dirangkaikan, yaitu, meneruskan pangkat dan jabatan reje tanpa ada peresmian lagi. Cara ini akan sangat menghemat biaya. Kalau melalui pemilihan akan memakan waktu permusyawarahan yang lama, maka jabatan ini dianggap kosong dan penggantiaannya dianggap sebagai reje baru ; pengangkatan begini harus dilakukan dengan ‘dowa’ dari kejurun, yang tentu memerlukan banyak uang guna membiayai peresmian. Dalam keadaan begini reje baru harus diperkenalkan kepada teman sejawat dalam daerah itu, dengan melakukan persembahan berupa kain putih, bajudin namanya. Pada akhirnya pada acara peresmian (neiken reje) dilaksanakan satu pesta (kenduri) sekurang-kurangnya dengan memotong seekor kerbau. Pada pemilihan-pemilihan yang diwarnai kericuhan antara anak-anak, mawen tidak mungkin dilakukan maka yang terpilih sama dengan memilih reje baru.
Di Gayo Lues penggantian pada setiap kematian seorang reje, harus dapat membagikan delapan potong kain putih (empat kepada Kejurun Patiambang, empat lagi kepada teman sejawatnya). Ini namanya ‘mate berbajudin leng bersalen, hangat pepakiren’, artinya ‘kalau (seorang reje) meninggal, bajudin dituntut, serahkan sepesalin yaitu dua potong kain putih kepada anggota famili yang lain. Apabila dalam keadaan demikian republik ini tetap panas dengan sering datangnya bahaya umpamanya lalu sanak saudara memutuskan “nahmanya” (kebesarannya), kebesarannya tidak sesuai harus diambil dan jabatan presiden ini diberikan kepada orang lain.
Dalam teori, seorang kejurun baru harus mengambil surat pengangkatan dari Daulat Aceh. Dengan sendirinya bisalah kita artikan bahwa oleh semua kejurun diseluruh pesisir Aceh selama berabad-abad sudah tidak teratur pelaksanaannya, dan tentu pikiran dan prilaku kejurun yang begitu, sedikit banyaknya merasuk juga ke dalam pikiran dari ke ‘empat Kejurun’ yang ada di Tanah Gayo. Dengan contoh dan tradisi yang demikian, pantas mereka berpendapat, tanpa mendapat persetujuan dari Aceh pun kita bisa aman tinggal di daerah ini.
Tentang pengangkatan kejurun tidak perlu ada istilah mawen karena ‘nahma’ itu sendiri tidak ikut mati, walaupun pengalihan kepada yang lain sebelum penguburan terjadi belum dilaksanakan. Tanpa melakukan upacara pengangkatan, para famili harus bersepakat dengan para reje yang ada dalam daerah itu untuk menunjuk seorang pengganti dari kejurun yang meninggal. Di mana-mana orang tidak ada berkata “neiken kejurun” serupa dengan “neiken reje” karena dilaksanakan diam-diam seolah-olah bahwa penetapan kejurun datangnya dari atas dan bukanlah atas kehendak rakyat. Di Gayo Lues pengangkatan seorang kejurun biasanya sama dengan pengangkatan seorang reje. Dari penggantian seorang kejurun yang meninggal dunia, edet menuntut enam belas potong kain putih untuk bajudin, yang dibagikan kepada dua belas orang pengulu yang dianggap memangku jabatan asal (pengulu si due belas). (6)
6. Jumlah Penduduk Kekejurunan Patiambang
Tidak dapat ditentukan dengan pasti berapa jumlah penduduk Gayo Lues pada waktu kedatangan Belanda tahun 1904.
Menurut M.H Gayo penduduk Gayo Lues pada tahun 1904 adalah 11.500 orang.
Dalam pada itu seorang penulis Belanda Dr. A J. Piekaar yang menjadi pegawai Pemerintah Kolonial Belanda di Aceh dalam bukunya menulis bahwa jumlah penduduk Gayo dan Alas menjelang penyerbuan Jepang ke Aceh bulan Maret 1942, adalah kira-kira 72.500 orang, yang terdiri dari 29.000 orang penduduk Gayo Laut, 23.000 orang penduduk Gayo Lues, dan 20.000 orang penduduk daerah Alas.
Keadaan yang digambarkan oleh Piekaar tersebut adalah 38 tahun setelah penyerbuan Belanda ke Tanoh Gayo dan Alas tahun 1904, untuk dapat mengetahui jumlah penduduk Gayo dan Alas pada saat penyerbuan Belanda tahun 1904 itu dapat dipergunakan berbagai-bagai cara. Ada orang berpendapat bahwa berdasar perkiraan pengalaman perkembangan penduduk, dapat diketahui bahwa dalam masa kira-kira 35 – 40 tahun, perkembangan penduduk bertambah menjadi kira-kira 100 %. Jika pendapat ini dapat dipergunakan maka jumlah penduduk Gayo dan Alas pada waktu penyerbuan Belanda tahun 1904 dapat diperkirakan yaitu ½ x 72.500 orang menjadi kira-kira 36.250 orang. Antaranya kira-kira 14.500 orang penduduk Gayo Laut, kira-kira 11.500 orang penduduk Gayo Lues dan kira-kira 10.000 orang penduduk daerah Alas. Dalam jumlah ini belum termasuk penduduk daerah Serbajadi. (7)

WARUNG DI ATAS BUKIT

WARUNG DI ATAS BUKIT
OLEH : Drs. H. M. SALIM WAHAB

PADA MASA BELANDA (1927 – 1937) DI GAYO LUES PERNAH ADA WARUNG DI ATAS BUKIT ISINYA ADA NASI GORENG, ROTI, DAN MINUMAN KALENG. WARUNG TIDAK DIJAGA. SIAP MAKAN BAYAR, KALAU TAK ADA UANG, ISI FORMULIR, LETAKKAN DI ATAS MEJA, ATAU JEPIT DI DINDING. AWAL BULAN POTONG GAJI.

Barangkali judul di atas dianggap orang lelucon saja, atau sesuatu yang tak masuk akal, atau perbuatan orang gila. Tetapi benar adanya. Ada warung di kaki gunung Burni Peparik, ada warung di kaki gunung Burni Leme, ada warung di Burni Palok, ada warung di Burni Badak. Isi warung nasi goreng, minuman kaleng dan roti kering.

Nasi goreng dijual agar jangan cepat basi, minuman kaleng dijual agar tahan lama dan juga roti kering yang tak cepat berjamur. Tujuan pembuatan warung ini agar serdadu yang operasi setiap hari jangan kelaparan, jangan kehausan. Serdadu yang operasi berangkat pagi pulang sore, berangkat sore pulang pagi dst. Serdadu yang operasi tidak membawa perbekalan yang lengkap. Supaya jangan kelaparan, kehausan, didirikanlah warung, di setiap tempat yang strategis jauh dari tangsi. Semula memang hanya untuk serdadu Belanda, tetapi lama kelamaan juga untuk rakyat jelata.
Pagi-pagi sekali orang suruhan serdadu Belanda, mengantar nasi goreng, roti, dan minuman kaleng ke setiap warung. Sesampai di warung, petugas tadi menyusun dengan rapi, nasi goreng, kaleng minuman dan roti pada tempat yang sesuai. Kemudian para petugas pulang, dan mengunci warung. Kunci diletakkan di tempat yang aman dan mudah dilihat orang. Ada juga pintu dikunci dengan kayu, tapi kodenya/cara membukanya diberitahu dengan tulisan. Kalau semua dianggap sudah selesai, serdadu dengan orang suruhan pulang ke tangsi.
Jadi warung tidak dijaga?. Betul, warung tidak ada penjaganya. Untuk membantu pelanggan, di sana telah ada daftar harga. Misalnya nasi satu piring 10 sen, ikan satu potong 5 sen, minuman kaleng 1 kaleng 2 ½ sen, dsb. Dengan demikian orang dapat makan dan minum sesuai dengan isi kantongnya, atau kemampuannya. Misalnya pelanggan masuk, lalu makan dan minum. Dia sudah tahu berapa uang yang harus dibayar. Misalnya dia makan 2 piring nasi dan minum 2 kaleng, maka dia harus bayar 2 x 10 sen + 2 x 2 ½ sen = 20 + 5 sen = 25 sen. Uang dimasukkan ke dalam kotak yang sudah tersedia. Oh itu untuk orang yang ada uang, bagaimana kalau uang tak ada. Jangan takut, ada caranya. Sesudah makan dan minum, lalu dia tulis makanan dan minuman yang sudah dihabiskannya, di satu formulir yang sudah tersedia. Lalu formulir ini disimpan di tempat yang sudah disediakan. Itu kalau pegawai, kalau rakyat biasa yang tak bergaji bagaimana. Jangan binggung, jalan masih terbuka. Misalnya ada seberu/sebujang sedang berutem, kelaparan dan kehausan. Silakan mampir, makan dan minum terus, yang penting harus diingat apa yang dimakan dan diminum. Nanti sore, lapor kepada petugas, dan bulan depan bayar. Bila bulan depan pun uang tak ada, dipakai cara yang agak kasar, yaitu datang ke tangsi, dan jumpai komandan jaga ;
“Pak, hari Minggu lalu saya makan dan minum di warung Burni Peparik. Nasi goreng 2 piring, minuman kaleng 2 buah. Saya tak punya uang pak, bagaimana caranya ?”
“Kau harus membersihkan / mencangkul tangsi seluas 25 m² “
Atau kalau keberatan mencangkul boleh pilih yang lain, misalnya membawa kayu masak 10 jangkat, atau boleh juga memikul beban serdadu yang operasi selama seminggu, dsb.
Lalu timbul pertanyaan, apakah tidak ada penipuan, pencurian, penggarongan. Misalnya, dia makan 4 piring ngaku 1 piring, minum 5 kaleng, dibilang 2, dsb. Atau roti dibawa beberapa bungkus.
Hampir 10 tahun keberadaan warung ini, hanya ada satu orang yang menipu, menurut pengarang buku ATJEH, H. C. ZENTGRAAFF yang diterjemahkan dengan judul buku Kisah-kisah Lama Di Daerah Gayo Lues, hal. 59, dilakukan oleh seorang dokter hewan yang lebih banyak sifat hewan di hatinya daripada sifat manusia. Dalam 10 tahun, beribu pelanggan keluar masuk warung yang menipu hanya 1 orang, luar biasa. Sukses, mengagumkan. Dasar pemikiran setiap pelanggan adalah kejujuran dan itikat baik. Betul-betul tertanam di dalam hati. Semboyan umum pada waktu itu adalah :
“ ASAL JANGAN SAYA YANG MENIPU “
Dan di dinding setiap warung tertulis kata mutiara,
“ SAYA TAK AKAN MEMBOHONGI HATI NURANI SAYA “
Kalau saya minum 2 kaleng, saya bilang satu kaleng, maka saya telah membohongi hati nurani. Hati nurani tak dapat dibohongi.
Nah, sekarang sudah banyak orang Gayo Lues yang kaya, yang dianggap mampu membuat warung ala Belanda tersebut. Investasi perlu ditanam, dan kalau melihat warung Belanda tersebut, untungnya sungguh menjanjikan, mengiurkan !.
Caranya, tak usah malu-malu ikuti saja cara warung Belanda. Kalau boleh saya mengusulkan satu dibuat di BUKIT CINTA, Blangtenggulun. Pada hari minggu atau hari besar lainnya tempat ini penuh muda-mudi, lebih-lebih waktu bulan muda. Satu lagi di BERAWANG LOPAH, di BLANG TASIK, di BLANG SERE, di KALA PINANG, di ATU PELTAK, dan di KACANG MINYAK arah Pining.
Ada 3 pihak yang beruntung, yaitu penanam modal, untung besar menanti, rakyat sebagai pelanggan, dan penambahan PAD Pemda.
Ah, itu teori. Prakteknya bagaimana. Bisa-bisa, bukan saja nasinya habis, minuman habis, roti habis, juga warungnya bisa hilang. Tapi mari kita coba dulu, jangan pesimis. Belanda yang kafir kok bisa, kita yang muslim kenapa tidak.

Tuesday, August 7, 2018

Katalog Anggrek Spesies Gayo Lues

Katalog Anggrek Spesies Gayo Lues

Monday, August 6, 2018

Coelogyne speciosa

Coelogyne speciosa Scientific classification Kingdom: Plantae (unranked): Angiosperms (unranked): Monocots Order: Asparagales Family: Orchidaceae Subfamily: Epidendroideae Tribe: Coelogyneae Subtribe: Coelogyninae Genus: Coelogyne Species: C. speciosa Binomial name Coelogyne speciosa (Blume) Lindl. (1833) Synonyms Chelonanthera speciosa Blume (1825) (Basionym) Pleione speciosa (Blume) Kuntze (1891)

Anggrek Tebu/ Grammatophyllum speciosum

Grammatophyllum speciosum, juga disebut Anggrek raksasa, Anggrek harimau, Anggrek tebu atau Ratu anggrek, adalah anggrek terbesar didunia. Kingdom: Plantae (tidak termasuk): Angiospermae (tidak termasuk): Monocots Ordo: Asparagales Famili: Orchidaceae Subfamili: Epidendroideae Bangsa: Cymbidieae Subbangsa: Cymbidiinae Genus: Grammatophyllum Spesies: G. speciosum Nama binomial Grammatophyllum speciosum Blume

Paphiopedilum primulinum

Paphiopedilum primulinum adalah endemik Blangkejeren (Gayo Lues) Sumatera, diketinggian 1000 mdpl Tumbuh di humus di batu kapur, di tempat teduh atau bahkan terkena cahaya . panas untuk hangat tumbuh, multi-bunga terestrial dengan distichous, lonjong-lanset, hijau jelas, panjang 15-17 cm, lebar daun 2-4 cm yang tridenticulate apically. Paphiopedilum mekar tegak, 10 sampai 30 cm, hijau, perbungaan puber yang memiliki beberapa bunga mekar berturut-turut dari, terjadi selama bulan-bulan musim panas. Bunganya berdiameter sekitar 4 cm.
Paphiopedilum tonsum Anggrek sepatu dewi, Namanya Paphiopedilum tonsum, tumbuh alami di Sumatera pada ketinggian antara 1000 sampai 1800 meter dpl. Biasanya ditemukan sebagai litofit di tebing-tebing batu yang ber humus atau serasah daun. Paphiopedilum tonsum dinamakan juga "Paphiopedilum Gundul" (dari bahasa Latin "tondeo" yang berarti "gundul") karena bunganya yang licin tanpa bulu. Pada umumnya bunga didominasi warna hijau atau hijau kekuningan sampai pink kecoklatan dengan bintik-bintik hitam yang menarik pada permukan kedua petalnya. Beberapa varian P. tonsum antara lain P. tonsum var. braemii yang bunganya berukuran lebih kecil dengan warna lebih hijau, dan P. tonsum fma. alboviride (varian albino). Puncak masa berbunga di habitat aslinya ialah antara Januari-Februari

Monday, December 4, 2017

Bivak I Leuser
Kampung Gayo_Bivak I

Angkasan Leuser_Pemasangan Tenda
Kampung Gayo_Pemasangan Tenda di Puncak Angkasan

Gala_Leuser Pucuk Angkasan
Kampung Gayo_Bendera GALA

Pilar Pucuk Angkasan Leuser
Kampung Gayo_Tugu Angkasan

Tobaco Hot_Leuser
Kampung Gayo_Tobaco Hot

Saturday, May 27, 2017

Kekejaman Belanda di Gayo Lues

Kekejaman Belanda di Gayo Lues dan Tanah Alas sungguh luar biasa, lain dari kekejaman mereka di daerah lain.
Bila diteliti ada beberapa faktor penyebab antara lain, sebagai berikut :
a. Gubernur Sipil dan Militer Aceh, secara rutin setiap tahun mengeluarkan bulletin, kumpulan kegiatan setiap bulan selama 12 bulan. Dari sekian bulletin yang terbaca, adalah Buletin tahun 1907 yang paling penting untuk diulas. Rupanya Pucuk Pimpinan Militer di Aceh menghendaki agar sebelum bulan Agustus tahun 1904 seluruh daerah Aceh dapat ditaklukkan. Seperti diketahui sampai akhir 1903 daerah yang belum takluk kepada Belanda di daerah Aceh tinggal Gayo Lues dan Tanah Alas. Kehendak ini disampaikan ke Batavia, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur Jenderal pun bersetuju dengan batas waktu sebelum Agustus 1904, dengan maksud agar kabar gembira ini dipersembahkan kepada Ratu Belanda, sebagai kado, suatu keberhasilan Belanda mengalahkan Aceh, bangsa yang sangat perkasa melawan Belanda di seluruh Hindia Belanda. Van Heutsz dan pimpinan Militer Belanda di Kutaraja sangat gembira menyambut persetujuan Gubernur Jenderal ini. Gubernur Jenderal sendiri, di satu pihak dan Gubernur Sipil Militer Aceh dan Van Daalen di pihak lain membuat suatu MoU, pemufakatan, kalau Aceh dapat ditaklukkan sebelum Agustus 1904, maka Gubernur Jenderal dipromosikan menjadi Menteri Jajahan, Van Heutsz diusulkan promosi ke Batavia sebagai Gubernur Jenderal dan Van Daalen diusulkan promosi menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh, dan sebaliknya jika gagal, maka Van Heutsz dan Van Daalen harus masuk kotak, pulang kampung.
Cita-cita ketiga anak manusia ini tercapai pada bulan Juli 1904 kedua daerah Gayo Lues dan Tanah Alas takluk, berarti seluruh Aceh telah takluk. Pada bulan Agustus 1904 Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerahkan kado ini kepada Ratu Belanda pada perayaan Ulang Tahun ratu yang diperingati setiap bulan Agustus.
Tidak berapa lama kemudian Gubernur Jenderal diangkat menjadi Menteri Jajahan. Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia dan Van Daalen diangkat menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh di Kutaraja. Pucuk dicinta ulam tiba kata mereka.
b. Untuk mewujudkan cita-cita Gubernur Jenderal dan Gubernur Sipil Militer tersebut diatas Van Heutsz selaku Gubernur Sipil Militer Aceh, secara selektif harus memiliki perwira Belanda yang akan menjalani tugas yang maha penting tersebut, sebab kalau gagal, jabatan dan harga diri taruhannya. Setelah dipertimbangkan dengan secara seksama, dari sekian perwira yang berdedikasi tinggi akhirnya pilihan jatuh ke tangan Van Daalen. Kepada Van Daalen diberi tugas untuk menaklukkan Gayo Lues dan Tanah Alas sebelum bulan Agustus 1904, dan kalau gagal pangkat akan diturunkan dan dipulangkan/pindah. Van Daalen menyanggupi syarat ini. Kalau sudah demikian, pertimbangan akal sehat hilang dan pelanggaran HAM akan dikesampingkan.
c. Perjalanan pasukan Van Daalen melalui hutan belantara sangat-sangat menguras tenaga, pikiran dan pertimbangan kemanusiaan. Tugas mereka mengalahkan Gayo Lues dan Tanah Alas harus tercapai, karena itu di dalam prakteknya nanti segala penderitaan di perjalanan ini akan dilampiaskan kepada musuh yang dihadapi kelak. Tujuan ini menghalalkan segala cara.

d. Pada tanggal 27 September 1901, berangkatlah pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Van Daalen dari Aceh Utara dengan tujuan Gayo Lues. Sesampai di Takengon Van Daalen mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang sudah menyerah kepada Belanda. Van Daalen mengorek informasi dari tokoh-tokoh ini tentang Gayo Lues, mengenai jumlah penduduknya, jumlah kampung, kampung yang besar, kampung yang kecil, benteng pertahanan, jalan menuju ke sana dan sebagainya. Didapat informasi bahwa jalan ke Gayo Lues yang biasa dilalui adalah dari arah Takengon – Isaq – Waq – Lumut – Ise-Ise – Tembolon, lalu melewati Bukit Barisan menuju Gayo Lues. Tidak ada jalan lain, terkecuali lewat hutan belantara dari arah Jagong – Perok – Terangun. Jalan yang disebut terakhir ini sangat sukar dan jarang dilalui oleh manusia. Mendapat informasi ini lalu Van Daalen memerintahkan Kapten Colijn dibantu oleh Letnan G. J. H Van Steyn Van Hensbroek menerobos Gayo Lues. Rupanya tokoh masyarakat Takengon membocorkan rahasia ini dan secepat kilat memerintahkan utusan ke Gayo Lues supaya menunggu pasukan Belanda di Burni Tembolon, Burni Intim-Intim, dan Rerorohan. Kapten Colijn melangkahkan kaki menuju Gayo Lues, dengan pasukan besar dan bersenjata lengkap. Perjalanan dari Takengon sampai ke Ise-Ise boleh dikatakan aman-aman saja, tidak ada perlawanan yang berarti dari rakyat setempat, namun ketika memasuki daerah Tembolon, pasukan Colijn telah disambut dengan tembakan pejuang. Colijn tak gentar dan maju terus. Di tengah perjalanan menuju puncak gunung pasukan Colijn disambut dengan senjata pejuang yang tak disangka-sangka Colijn yaitu batu-batu besar, batang kayu besar, bergemuruh dari atas gunung. Pasukan Colijn yang kalang kabut, lalu diserbu pejuang. Terjadi perang tanding, pedang lawan pedang. Bedil, sudah hampir tidak dapat digunakan. Letnan Hensbroek dan 8 opsir beserta 45 serdadu mati. Colijn kembali ke Takengon melapor kepada Van Daalen. Van Daalen murka bukan kepalang dan menuding Kapten Colijn goblok dan pengecut, dan memerintahkan pasukan kembali ke Kutaraja melalui Beutong Aceh Barat.
Kekalahan Van Daalen ini tersiar luas di Kutaraja. Pucuk pimpinan militer Belanda di Kutaraja sangat murka dan malu, dan selama ini musuh-musuh Van Daalen sesama perwira semakin bergembira dan mengejek Van Daalen. Van Daalen semakin mengurung diri, malu menampakkan diri sebab asal kelihatan pasti diejek secara terang-terangan oleh sesama perwira.
“ADA KAWAN KITA, PANGKAT TINGGI, BADAN BESAR, WAJAH LUMAYAN GANTENG, PENAMPILAN MEMUKAU, SALAHNYA KALAH SAMA ORANG UTAN”
”APA GUNA WAJAH GANTENG, PANGKAT TINGGI, GAJI BESAR, KEDUDUKAN MENGGIURKAN, TAPI SALAHNYA PENGECUT”
Dan ketika diadakan jamuan makan akhir bulan di kantin khusus perwira, pernah ada spanduk terpasang di pintu dengan bunyi “PERWIRA YANG DIKALAHKAN OLEH ORANG UTAN DILARANG MASUK”
Bukan main sakit hati Van Daalen dan karena itu berkali-kali dia minta agar dia ditugaskan lagi mengalahkan Gayo Lues. Akhirnya luluh juga hati Van Heutsz selaku pucuk pimpinan militer di Aceh untuk mengabulkan permohonan Van Daalen ini. Dalam keadaan hati panas inilah Van Daalen berangkat ke Gayo Lues (catatan tersebut di atas dibuat oleh Kapten H. Colijn yang ditulis dalam bulletin akhir tahun 1902, dengan judul JEJAK LANGKAH TUAN BESAR (Van Daalen))
Dari uraian diatas kita baru faham, mengapa begitu gencarnya serangan, kritikan, caci maki terhadap Van Daalen, terhadap Van Heutsz, terhadap Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang dilancarkan oleh pers, oleh Parlemen Belanda, oleh dunia luar, namun ketiga orang ini seperti tidak tergoyahkan sama sekali. Mengapa usulan, resolusi dan sebangsanya yang ditujukan kepada Van Heutsz agar memecat Van Daalen tidak dihiraukan sama sekali, mengapa usulan yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal agar memecat Van Heutsz dianggap angin lalu. Rupanya mereka setali tiga uang, sudah bersekongkol, sudah ada MoU di antara ketiganya. Benar sejak usulan, resolusi, caci maki terhadap mereka, mereka anggap anjing menggonggong kafilah berlalu. Kita mau bilang apa lagi. Ini kenyataan, yang penting kita sudah faham.

Friday, May 5, 2017

Kejurun; Asosiasi Masyarakat Gayo Berdasarkan Keturunan

Di daerah Aceh Gayo telah berdiri asosiasi sosial yang bernama kejurun. Kejurun, adalah sebuah terminologi atau sebutan nama untuk daerah di daerah Gayo, yang memiliki wilayah-wilayah tertentu yang terdiri dari empat desa tradisional Gayo. Selain masyarakat Gayo, istilah ini juga digunakan oleh Masyarakat Alas, kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Timur, dan masyarakat Karo.

Di daerah Aceh Gayo terdapat 8 daerah kejurun, yaitu 6 kejurun di daerah tanah Gayo dan 2 kejurun di daerah Tanah Alas. Di daerah Gayo lebih dahulu berdiri 4 kejurun yaitu: Kejurun Bukit yang mula-mula berkedudukan di Bebesan, kemudian dipindahkan ke kebayakan yang tidak jauh dari Bebesan. Selanjutnya terbentuk kejurun Linge yang berkedudukan di daerah Gayo Linge. Kejurun Siah Utama yang berkedudukan di kampung Nosar di pinggir Danau Laut Tawar; dan berdiri kejurun Petiamang yang berkedudukan di Gayo Lues.
Lama kemudian setelah berdirinya keempat kejurun di atas, baru berdiri pula kejurun kelima yaitu kejurun Bebesan yang berkedudukan di Bebesan di tempat kedudukan kejurun Bukit semula. Keenam berdiri kejurun Abuk di daerah Serbejadi. Di daerah Tanah Alas berdiri 2 kejurun yaitu kejurun Batu Mbulen yang berkedudukan di Batu Mbulen dan kejurun Bambel yang berkedudukan di Bambel.
Keempat kejurun di daerah Gayo Laut, Gayo Linge, dan Gayo Lues yaitu kejurun Bukit, kejurun Linge, kejurun Siah Utama dan kejurun Patiamang mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh. Demikian juga halnya dengan 2 kejurun di Tanah Alas, kedua-duanya mendapat pengesahan dari Sultan Aceh, tetapi kejurun Bebesan dan kejurun Abuk tidak mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh.
Berdirinya kejurun Bebesan seperti yang diterangkan di atas, adalah akibat dari kedatangan orang-orang Batak Karo ke 27 ke Tanah Gayo. Antara kejurun Bukit dengan Batak Karo 27 terjadi suatu perselisihan, yang mengakibatkan terjadinya peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak Batak 27 dan kekalahan kejurun Bukit. Dalam suatu perundingan damai, akhirnya kedudukan kejurun Bukit terpaksa dipindahkan dari Bebesan ke Kampung Kebayakan. Sedang di Bebesan didirikan Raja Cik Bebesan yang berkedudukan di Bebesan yang dipimpin oleh Lebe Kader yaitu pemimpin pasukan Batak Karo 27, yang menguasai daerah-daerah sekitarnya, dan membagi dua daerah kejurun Bukit. Setengah untuk kejurun Bukit dan separuh untuk Raja Cik (penghulu) Bebesan. Raja Cik Bebesan inilah yang kemudian berkembang dan menjadi Kejurun Bebesan sampai kedatangan Belanda tahun 1904 (M.H. Gayo 1990:25).
Menurut cerita orang-orang Gayo dahulu, kelompok Cik berasal dari orang-orang Batak Tapanuli. Orang-orang Batak Tapanuli ini lebih popular disebut dengan Batak ke 27 seperti asal-usul orang-orang dari kampung Bebesan (Melalatoa, 1971:92). Pada waktu yang lampau mereka berasal usul dari 27 orang Batak Tapanuli yang datang ke Aceh Tengah.
Menurut cerita, orang-orang Batak Tapanuli ini kebanyakan dahulu bertempat tinggal dikampung yang sekarang disebut Bebesan. Karena kedatangan Batak Tapanuli ini ke kampung Bebesan, maka orang-orang Kebayakan kemudian mengungsi dari kampung Kebayakan. Orang-orang Batak Tapanuli ke 27 ini sebagian menikmati tinggal di kampung Kebayakan tadi, yang kemudian mereka menetap di Kampung Bebesan.
Selanjutnya orang-orang Bukit yang berasal dari orang-orang pantai Utara Aceh, seperti orang-orang dari kampung Kebayakan tadi. Menurut Melalatoa, orang-orang kampung Bebesan dan orang-orang kampung Kebayakan mempunyai asal-usul yang sama. Karena kedua-duanya masih mengenal Belah atau Klen, walaupun demikian nama-nama belah atau Klen itu tidaklah sama. Karena Belah merupakan Klen besar dari pengaruh perkembangan Sedere. Diantara mereka masih merasa dirinya mempunyai satu keturunan yang sama, satu masa lampau yang sama, dan satu sistem sosial yang sama pula.
Jika diperhatikan dari segi perbedaan adat istiadat, maka akan tampak pula pada segi keseniannya, seperti kesenian Didong dan Pacuan Kudanya yang diselenggarakan hampir setiap tahun, yang pada umumnya bertepatan dengan bulan Agustus untuk merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertandingan Didong dan Pacuan Kuda ini baru dianggap meriah apabila sudah berhadapan antara kesebelahan Cik yang diwakili oleh kampung Bebesan dengan kesebelasan kampung Bukit yang diwakili oleh kampung Kebayakan.
Dengan adanya asal-usul yang berbeda antara Cik dan Bukit, maka dapat diperkirakan bahwa etnik Gayo berasal dari kedua asal-usul tadi, yaitu dari Batak Tapanuli dan dari Pesisir Aceh bagian Utara. Dalam waktu yang cukup lama migrasi lokal antara kelompok Cik dan Bukit berlangsung secara Evolutif. Demikian juga dalam perkawinan campuran antara keduanya sering kali terjadi. Seiring dengan hal tersebut, maka akulturasi di bidang adat-istiadat dan kehidupan sosial ekonominya mempunyai pola yang sama pada masyarakat Gayo di Aceh Tengah, walaupun di sana-sini masih terdapat perbedaan.

Sumber Rujukan
Ical. 2009. Sejarah Gayo Lues. http://ical88.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=
Lidahtinta. 2009. Keragaman dan Kekayaan Etnis Alas. http://lidahtinta.wordpress.com/2009/07/28/keragaman-dan-kekayaan-etnis-alas/
Rusdi Sufi dkk. 1998. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Zulfikar Arma. 2009. Struktur Pemerintahan Raja Gayo Lues Pra-Penjajahan Belanda.

Monday, May 1, 2017

Dimus Srikandi Berjiwa Singa

Dimus Srikandi Berjiwa Singa
Belanda pada dasarnya berkehendak agar pejuang Gayo yang berada di setiap benteng dapat dan mau menyerah secara baik-baik, untuk menghindari jatuhnya korban. Untuk mencapai tujuan ini dipakai tangan orang ketiga, baik kejurun, pemuka agama, reje yang sudah menyerah dan lain-lain. Juga taktik menakuti pejuang yang belum menyerah dengan memberi contoh-contoh tindakan Belanda atas benteng pejuang yang telah kalah.
Setelah benteng Penosan jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 11 Mei 1904, Van Daalen mengirim surat kepada pejuang Tampeng, agar menyerah. Surat ini diantar oleh kurir yang pandai tulis baca, dan ahli dalam diplomasi. Kurir meminta agar pejuang Tampeng menyerah saja.
Kurir : “Kati nti naeh deletu jema mate, harta hancur, kampung hancur, kune perahanme ike kite bersebet padih urum pake si gehni. Ku rasa dele manfaat’e ari mudarat’e. Engonkam Pasir, hancur, Gemunyang si kuet royo, Durin, lumet, Badak nlangak, Rikit Gaib meh, Penosan hangus. Nti kase kampung te nipeh lebih ari oya. Sayang rakyatte”.
Pejuang : “Seber kam, osah ku kami waktu, wasni 2 atau 3 lo ni kami osah keber ku kam. Geh mien kam kini, kati betih hasil’e kase”.
Kurir : “Jeroh-jeroh, wasni 3 lo ni kami geh mien”.
Terjemahan :
Kurir : “Agar supaya jangan lagi banyak jatuh korban, harta hancur, kampung hancur, bagaimana perasaan bapak-bapak kalau kita bersahabat saja dengan pendatang ini. Saya pikir lebih banyak mudaratnya. Coba bapak lihat Pasir hancur, Gemuyang kalah, Durin kalah, Badak kalah, Rikit Gaib kalah, Penosan kalah. Jangan nanti kampung kita inipun lebih hancur lagi. Sayang rakyat”.
Pejuang : “Sabar bapak, kasih kesempatan kepada kami dalam 2 a 3 hari ini baru kami beri kabar. Datang lagi bapak kemari supaya tahu bagaimana hasilnya”.
Kurir : “Baiklah kalau begitu dalam 2 a 3 hari ini kami datang”.
Pada malam harinya, pejuang benteng Tampeng, mengadakan rapat di atas mersah Tampeng di bawah pimpinan Reje Cik Tampeng, dihadiri oleh para panglime, antara lain yang dari luar kampung Aman Linting, Aman Jata, Abdussamad Kejurun Bambel, Tanah Alas dan Kurir Belanda sendiri. Acara rapat yang utama adalah membahas ultimatum Van Daalen. Dalam pembahasan ini forum terbagi dua, ada yang berkeras perang dan lebih banyak berdamai dengan Belanda. Tidak ada titik temu, masing-masing mempertahankan argumennya. Bukan lagi rapat, tapi sudah mengarah ke pertengkaran, pecah kongsi, dan hampir saja pedang ikut berbicara. Suasana di atas mersah panas, sedangkan suasana di bawah mersah yang dihuni oleh perempuan dan anak-anak mencekam. Mereka, kaum ibu, memperhatikan, pembicaraan kaum bapak, secara cermat dan sebagian dari ibu yang berjiwa panglima sangat menyesalkan pertengkaran kaum bapak yang dianggap menghabiskan tenaga saja.
Pada saat itulah ada seorang ibu yang bernama Dimus bernyanyi, bersendung, untuk mengajak anaknya agar cepat tidur. Dalam senandung beliau berharap agar anaknya cepat tidur, dan mengharap kepada anaknya agar mengizinkan ibunya bersabung dengan Belanda, dan kalau anaknya ingin “nyusu” mintalah kepada ayahnya si pengecut, kalau kelak ibunya gugur.

Senandung Dimus kira-kira demikian :
- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku mutuah, anakku sibebahagie
- Nti naeh mongot berkolak awah
- Inemu male betengkah urum Belene

- Ateni amanmu nge dabuh gunah
- Nge nerah langkah nsangka ku uten rime
- Kedelen’e jema rawan nge nyarungni lopah
- Gere naeh ara ken panglime

- Ike inemu mate, ko gere dalih mongot bersebuku
- Ike ko nlape ku amamu ko niro susu
- ike ko kul, ko torah nuntut ilmu
- Kati nguk mbelaku, nti ngeson lagu amamu

- Anakku nomeni renye nome, aku male nremes luju
- Luju ken alatku anakku urum Belene bejalu
- Aku gere terih aku gere takut anakku
- Ume garang pelulut ini inemu

- Oi jema rawan urang Tampeng
- Ke ngon kam gotol-gotol gere rengkeng
- Belene male geh nguk kam terih
- Reje Alas nge geh mbantu kite kunulle gere tak lah tapi tak iwih

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu

Terjemahan :

- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku bertuah, anakku yang berbahagia
- Jangan lagi kau kuat-kuat menangis
- Ibumu mau bersabung dengan Belanda

- Hati bapakmu sudah gundah
- Sudah mencari langkah, lari ke hutan rimba
- Kebanyakan orang laki sudah menyarung pisau
- Tak ada lagi berjiwa panglima

- Kalau ibumu sahid, jangan engkau bersedu sedan
- Kalau kau lapar, minta susu kepada bapakmu
- Kalau kau sudah besar, tuntutlah ilmu
- Biar dapat kau membantu ibu, jangan penakut seperti bapakmu

- Tidurlah tidur anakku, ibumu mau mengasah pedang
- Untuk alatku berlaga dengan Belanda
- Ibu tak gentar, tak takut anakku
- Bukan bapak penakut ini ibumu

- Oi pahlawan Tampeng
- Kulihat kalian gemuk-gemuk, tidak kurus
- Belanda datang, kok kalian takut
- Raja Alas datang membantu kita

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu
Rupanya jangin Dimus ini didengar oleh pejuang di atas mersah, mereka terdiam seluruhnya. Ketika itulah Dimus naik ke mersah memarahi para pejuang.
“Ooooiii ………he he he para panglime si gagah berani, Belene geh, kam takut, garang pelulut, jegekam anakni kami, osan luju mea ku kami jema benen, kati engonkam kami bersabung urum ‘kafir’ Belene. Kam gere kemel ken Reje Alas si geh mbantu kite. Besilo peri singket, sahan si mera dame urum Belene, turun ari mersah ini, taring i atasni alat me, dan si milih perang, taring i mersah ini”.
Terjemahan :
“Ooooiii ………para panglima yang gagah berani. Belanda datang kalian takut, garang pelulut jaga anak kami ini, berikan alat kalian kepada kami kaum perempuan, supaya kalian lihat kami bersabung dengan Belanda. Kalian tak malu kepada Raja Alas yang jauh-jauh datang membantu kita. Siapa yang mau damai dengan Belanda turun dari mersah ini letakkan senjata dan yang memilih perang tinggal diatas mersah ini”
Mendengar “pidato” Dimus ini, serentak seluruh peserta rapat mengucap.
“Allahu Akbar, perang, Allahu Akbar, perang”
Sambil berpelukan dan menangis satu dengan yang lain pilihan telah bulat ……………. Perang.
KISAH Inen Mayak Tri dan Dimus srikandi berjiwa singa ditulis oleh Kapten HERMAN AGERBEEK, komandan Divisi I marsose Blangkejeren. Herman Agerbeek adalah seorang penulis yang sangat kreatif, bahkan Zentgraaff penulis buku ATJEH berani mengatakan bahwa karya Agerbeek melebihi karya penulis besar C S H.
Cerita ini terdapat pada catatan MEMORI AKHIR JABATAN tahun 1928 yang tersimpan rapi di PDIA Banda Aceh.
Tulisan tersebut disesuaikan dengan sudut pandang Indonesia oleh penulis.
Oleh: Drs. H.Salim Wahab