Responsive Ads Here

Tuesday, August 7, 2018

Katalog Anggrek Spesies Gayo Lues

Katalog Anggrek Spesies Gayo Lues

Monday, August 6, 2018

Coelogyne speciosa

Coelogyne speciosa Scientific classification Kingdom: Plantae (unranked): Angiosperms (unranked): Monocots Order: Asparagales Family: Orchidaceae Subfamily: Epidendroideae Tribe: Coelogyneae Subtribe: Coelogyninae Genus: Coelogyne Species: C. speciosa Binomial name Coelogyne speciosa (Blume) Lindl. (1833) Synonyms Chelonanthera speciosa Blume (1825) (Basionym) Pleione speciosa (Blume) Kuntze (1891)

Anggrek Tebu/ Grammatophyllum speciosum

Grammatophyllum speciosum, juga disebut Anggrek raksasa, Anggrek harimau, Anggrek tebu atau Ratu anggrek, adalah anggrek terbesar didunia. Kingdom: Plantae (tidak termasuk): Angiospermae (tidak termasuk): Monocots Ordo: Asparagales Famili: Orchidaceae Subfamili: Epidendroideae Bangsa: Cymbidieae Subbangsa: Cymbidiinae Genus: Grammatophyllum Spesies: G. speciosum Nama binomial Grammatophyllum speciosum Blume

Paphiopedilum primulinum

Paphiopedilum primulinum adalah endemik Blangkejeren (Gayo Lues) Sumatera, diketinggian 1000 mdpl Tumbuh di humus di batu kapur, di tempat teduh atau bahkan terkena cahaya . panas untuk hangat tumbuh, multi-bunga terestrial dengan distichous, lonjong-lanset, hijau jelas, panjang 15-17 cm, lebar daun 2-4 cm yang tridenticulate apically. Paphiopedilum mekar tegak, 10 sampai 30 cm, hijau, perbungaan puber yang memiliki beberapa bunga mekar berturut-turut dari, terjadi selama bulan-bulan musim panas. Bunganya berdiameter sekitar 4 cm.
Paphiopedilum tonsum Anggrek sepatu dewi, Namanya Paphiopedilum tonsum, tumbuh alami di Sumatera pada ketinggian antara 1000 sampai 1800 meter dpl. Biasanya ditemukan sebagai litofit di tebing-tebing batu yang ber humus atau serasah daun. Paphiopedilum tonsum dinamakan juga "Paphiopedilum Gundul" (dari bahasa Latin "tondeo" yang berarti "gundul") karena bunganya yang licin tanpa bulu. Pada umumnya bunga didominasi warna hijau atau hijau kekuningan sampai pink kecoklatan dengan bintik-bintik hitam yang menarik pada permukan kedua petalnya. Beberapa varian P. tonsum antara lain P. tonsum var. braemii yang bunganya berukuran lebih kecil dengan warna lebih hijau, dan P. tonsum fma. alboviride (varian albino). Puncak masa berbunga di habitat aslinya ialah antara Januari-Februari

Monday, December 4, 2017

Bivak I Leuser
Kampung Gayo_Bivak I

Angkasan Leuser_Pemasangan Tenda
Kampung Gayo_Pemasangan Tenda di Puncak Angkasan

Gala_Leuser Pucuk Angkasan
Kampung Gayo_Bendera GALA

Pilar Pucuk Angkasan Leuser
Kampung Gayo_Tugu Angkasan

Tobaco Hot_Leuser
Kampung Gayo_Tobaco Hot

Saturday, May 27, 2017

Kekejaman Belanda di Gayo Lues

Kekejaman Belanda di Gayo Lues dan Tanah Alas sungguh luar biasa, lain dari kekejaman mereka di daerah lain.
Bila diteliti ada beberapa faktor penyebab antara lain, sebagai berikut :
a. Gubernur Sipil dan Militer Aceh, secara rutin setiap tahun mengeluarkan bulletin, kumpulan kegiatan setiap bulan selama 12 bulan. Dari sekian bulletin yang terbaca, adalah Buletin tahun 1907 yang paling penting untuk diulas. Rupanya Pucuk Pimpinan Militer di Aceh menghendaki agar sebelum bulan Agustus tahun 1904 seluruh daerah Aceh dapat ditaklukkan. Seperti diketahui sampai akhir 1903 daerah yang belum takluk kepada Belanda di daerah Aceh tinggal Gayo Lues dan Tanah Alas. Kehendak ini disampaikan ke Batavia, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur Jenderal pun bersetuju dengan batas waktu sebelum Agustus 1904, dengan maksud agar kabar gembira ini dipersembahkan kepada Ratu Belanda, sebagai kado, suatu keberhasilan Belanda mengalahkan Aceh, bangsa yang sangat perkasa melawan Belanda di seluruh Hindia Belanda. Van Heutsz dan pimpinan Militer Belanda di Kutaraja sangat gembira menyambut persetujuan Gubernur Jenderal ini. Gubernur Jenderal sendiri, di satu pihak dan Gubernur Sipil Militer Aceh dan Van Daalen di pihak lain membuat suatu MoU, pemufakatan, kalau Aceh dapat ditaklukkan sebelum Agustus 1904, maka Gubernur Jenderal dipromosikan menjadi Menteri Jajahan, Van Heutsz diusulkan promosi ke Batavia sebagai Gubernur Jenderal dan Van Daalen diusulkan promosi menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh, dan sebaliknya jika gagal, maka Van Heutsz dan Van Daalen harus masuk kotak, pulang kampung.
Cita-cita ketiga anak manusia ini tercapai pada bulan Juli 1904 kedua daerah Gayo Lues dan Tanah Alas takluk, berarti seluruh Aceh telah takluk. Pada bulan Agustus 1904 Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerahkan kado ini kepada Ratu Belanda pada perayaan Ulang Tahun ratu yang diperingati setiap bulan Agustus.
Tidak berapa lama kemudian Gubernur Jenderal diangkat menjadi Menteri Jajahan. Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia dan Van Daalen diangkat menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh di Kutaraja. Pucuk dicinta ulam tiba kata mereka.
b. Untuk mewujudkan cita-cita Gubernur Jenderal dan Gubernur Sipil Militer tersebut diatas Van Heutsz selaku Gubernur Sipil Militer Aceh, secara selektif harus memiliki perwira Belanda yang akan menjalani tugas yang maha penting tersebut, sebab kalau gagal, jabatan dan harga diri taruhannya. Setelah dipertimbangkan dengan secara seksama, dari sekian perwira yang berdedikasi tinggi akhirnya pilihan jatuh ke tangan Van Daalen. Kepada Van Daalen diberi tugas untuk menaklukkan Gayo Lues dan Tanah Alas sebelum bulan Agustus 1904, dan kalau gagal pangkat akan diturunkan dan dipulangkan/pindah. Van Daalen menyanggupi syarat ini. Kalau sudah demikian, pertimbangan akal sehat hilang dan pelanggaran HAM akan dikesampingkan.
c. Perjalanan pasukan Van Daalen melalui hutan belantara sangat-sangat menguras tenaga, pikiran dan pertimbangan kemanusiaan. Tugas mereka mengalahkan Gayo Lues dan Tanah Alas harus tercapai, karena itu di dalam prakteknya nanti segala penderitaan di perjalanan ini akan dilampiaskan kepada musuh yang dihadapi kelak. Tujuan ini menghalalkan segala cara.

d. Pada tanggal 27 September 1901, berangkatlah pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Van Daalen dari Aceh Utara dengan tujuan Gayo Lues. Sesampai di Takengon Van Daalen mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang sudah menyerah kepada Belanda. Van Daalen mengorek informasi dari tokoh-tokoh ini tentang Gayo Lues, mengenai jumlah penduduknya, jumlah kampung, kampung yang besar, kampung yang kecil, benteng pertahanan, jalan menuju ke sana dan sebagainya. Didapat informasi bahwa jalan ke Gayo Lues yang biasa dilalui adalah dari arah Takengon – Isaq – Waq – Lumut – Ise-Ise – Tembolon, lalu melewati Bukit Barisan menuju Gayo Lues. Tidak ada jalan lain, terkecuali lewat hutan belantara dari arah Jagong – Perok – Terangun. Jalan yang disebut terakhir ini sangat sukar dan jarang dilalui oleh manusia. Mendapat informasi ini lalu Van Daalen memerintahkan Kapten Colijn dibantu oleh Letnan G. J. H Van Steyn Van Hensbroek menerobos Gayo Lues. Rupanya tokoh masyarakat Takengon membocorkan rahasia ini dan secepat kilat memerintahkan utusan ke Gayo Lues supaya menunggu pasukan Belanda di Burni Tembolon, Burni Intim-Intim, dan Rerorohan. Kapten Colijn melangkahkan kaki menuju Gayo Lues, dengan pasukan besar dan bersenjata lengkap. Perjalanan dari Takengon sampai ke Ise-Ise boleh dikatakan aman-aman saja, tidak ada perlawanan yang berarti dari rakyat setempat, namun ketika memasuki daerah Tembolon, pasukan Colijn telah disambut dengan tembakan pejuang. Colijn tak gentar dan maju terus. Di tengah perjalanan menuju puncak gunung pasukan Colijn disambut dengan senjata pejuang yang tak disangka-sangka Colijn yaitu batu-batu besar, batang kayu besar, bergemuruh dari atas gunung. Pasukan Colijn yang kalang kabut, lalu diserbu pejuang. Terjadi perang tanding, pedang lawan pedang. Bedil, sudah hampir tidak dapat digunakan. Letnan Hensbroek dan 8 opsir beserta 45 serdadu mati. Colijn kembali ke Takengon melapor kepada Van Daalen. Van Daalen murka bukan kepalang dan menuding Kapten Colijn goblok dan pengecut, dan memerintahkan pasukan kembali ke Kutaraja melalui Beutong Aceh Barat.
Kekalahan Van Daalen ini tersiar luas di Kutaraja. Pucuk pimpinan militer Belanda di Kutaraja sangat murka dan malu, dan selama ini musuh-musuh Van Daalen sesama perwira semakin bergembira dan mengejek Van Daalen. Van Daalen semakin mengurung diri, malu menampakkan diri sebab asal kelihatan pasti diejek secara terang-terangan oleh sesama perwira.
“ADA KAWAN KITA, PANGKAT TINGGI, BADAN BESAR, WAJAH LUMAYAN GANTENG, PENAMPILAN MEMUKAU, SALAHNYA KALAH SAMA ORANG UTAN”
”APA GUNA WAJAH GANTENG, PANGKAT TINGGI, GAJI BESAR, KEDUDUKAN MENGGIURKAN, TAPI SALAHNYA PENGECUT”
Dan ketika diadakan jamuan makan akhir bulan di kantin khusus perwira, pernah ada spanduk terpasang di pintu dengan bunyi “PERWIRA YANG DIKALAHKAN OLEH ORANG UTAN DILARANG MASUK”
Bukan main sakit hati Van Daalen dan karena itu berkali-kali dia minta agar dia ditugaskan lagi mengalahkan Gayo Lues. Akhirnya luluh juga hati Van Heutsz selaku pucuk pimpinan militer di Aceh untuk mengabulkan permohonan Van Daalen ini. Dalam keadaan hati panas inilah Van Daalen berangkat ke Gayo Lues (catatan tersebut di atas dibuat oleh Kapten H. Colijn yang ditulis dalam bulletin akhir tahun 1902, dengan judul JEJAK LANGKAH TUAN BESAR (Van Daalen))
Dari uraian diatas kita baru faham, mengapa begitu gencarnya serangan, kritikan, caci maki terhadap Van Daalen, terhadap Van Heutsz, terhadap Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang dilancarkan oleh pers, oleh Parlemen Belanda, oleh dunia luar, namun ketiga orang ini seperti tidak tergoyahkan sama sekali. Mengapa usulan, resolusi dan sebangsanya yang ditujukan kepada Van Heutsz agar memecat Van Daalen tidak dihiraukan sama sekali, mengapa usulan yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal agar memecat Van Heutsz dianggap angin lalu. Rupanya mereka setali tiga uang, sudah bersekongkol, sudah ada MoU di antara ketiganya. Benar sejak usulan, resolusi, caci maki terhadap mereka, mereka anggap anjing menggonggong kafilah berlalu. Kita mau bilang apa lagi. Ini kenyataan, yang penting kita sudah faham.

Friday, May 5, 2017

Kejurun; Asosiasi Masyarakat Gayo Berdasarkan Keturunan

Di daerah Aceh Gayo telah berdiri asosiasi sosial yang bernama kejurun. Kejurun, adalah sebuah terminologi atau sebutan nama untuk daerah di daerah Gayo, yang memiliki wilayah-wilayah tertentu yang terdiri dari empat desa tradisional Gayo. Selain masyarakat Gayo, istilah ini juga digunakan oleh Masyarakat Alas, kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Timur, dan masyarakat Karo.

Di daerah Aceh Gayo terdapat 8 daerah kejurun, yaitu 6 kejurun di daerah tanah Gayo dan 2 kejurun di daerah Tanah Alas. Di daerah Gayo lebih dahulu berdiri 4 kejurun yaitu: Kejurun Bukit yang mula-mula berkedudukan di Bebesan, kemudian dipindahkan ke kebayakan yang tidak jauh dari Bebesan. Selanjutnya terbentuk kejurun Linge yang berkedudukan di daerah Gayo Linge. Kejurun Siah Utama yang berkedudukan di kampung Nosar di pinggir Danau Laut Tawar; dan berdiri kejurun Petiamang yang berkedudukan di Gayo Lues.
Lama kemudian setelah berdirinya keempat kejurun di atas, baru berdiri pula kejurun kelima yaitu kejurun Bebesan yang berkedudukan di Bebesan di tempat kedudukan kejurun Bukit semula. Keenam berdiri kejurun Abuk di daerah Serbejadi. Di daerah Tanah Alas berdiri 2 kejurun yaitu kejurun Batu Mbulen yang berkedudukan di Batu Mbulen dan kejurun Bambel yang berkedudukan di Bambel.
Keempat kejurun di daerah Gayo Laut, Gayo Linge, dan Gayo Lues yaitu kejurun Bukit, kejurun Linge, kejurun Siah Utama dan kejurun Patiamang mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh. Demikian juga halnya dengan 2 kejurun di Tanah Alas, kedua-duanya mendapat pengesahan dari Sultan Aceh, tetapi kejurun Bebesan dan kejurun Abuk tidak mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh.
Berdirinya kejurun Bebesan seperti yang diterangkan di atas, adalah akibat dari kedatangan orang-orang Batak Karo ke 27 ke Tanah Gayo. Antara kejurun Bukit dengan Batak Karo 27 terjadi suatu perselisihan, yang mengakibatkan terjadinya peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak Batak 27 dan kekalahan kejurun Bukit. Dalam suatu perundingan damai, akhirnya kedudukan kejurun Bukit terpaksa dipindahkan dari Bebesan ke Kampung Kebayakan. Sedang di Bebesan didirikan Raja Cik Bebesan yang berkedudukan di Bebesan yang dipimpin oleh Lebe Kader yaitu pemimpin pasukan Batak Karo 27, yang menguasai daerah-daerah sekitarnya, dan membagi dua daerah kejurun Bukit. Setengah untuk kejurun Bukit dan separuh untuk Raja Cik (penghulu) Bebesan. Raja Cik Bebesan inilah yang kemudian berkembang dan menjadi Kejurun Bebesan sampai kedatangan Belanda tahun 1904 (M.H. Gayo 1990:25).
Menurut cerita orang-orang Gayo dahulu, kelompok Cik berasal dari orang-orang Batak Tapanuli. Orang-orang Batak Tapanuli ini lebih popular disebut dengan Batak ke 27 seperti asal-usul orang-orang dari kampung Bebesan (Melalatoa, 1971:92). Pada waktu yang lampau mereka berasal usul dari 27 orang Batak Tapanuli yang datang ke Aceh Tengah.
Menurut cerita, orang-orang Batak Tapanuli ini kebanyakan dahulu bertempat tinggal dikampung yang sekarang disebut Bebesan. Karena kedatangan Batak Tapanuli ini ke kampung Bebesan, maka orang-orang Kebayakan kemudian mengungsi dari kampung Kebayakan. Orang-orang Batak Tapanuli ke 27 ini sebagian menikmati tinggal di kampung Kebayakan tadi, yang kemudian mereka menetap di Kampung Bebesan.
Selanjutnya orang-orang Bukit yang berasal dari orang-orang pantai Utara Aceh, seperti orang-orang dari kampung Kebayakan tadi. Menurut Melalatoa, orang-orang kampung Bebesan dan orang-orang kampung Kebayakan mempunyai asal-usul yang sama. Karena kedua-duanya masih mengenal Belah atau Klen, walaupun demikian nama-nama belah atau Klen itu tidaklah sama. Karena Belah merupakan Klen besar dari pengaruh perkembangan Sedere. Diantara mereka masih merasa dirinya mempunyai satu keturunan yang sama, satu masa lampau yang sama, dan satu sistem sosial yang sama pula.
Jika diperhatikan dari segi perbedaan adat istiadat, maka akan tampak pula pada segi keseniannya, seperti kesenian Didong dan Pacuan Kudanya yang diselenggarakan hampir setiap tahun, yang pada umumnya bertepatan dengan bulan Agustus untuk merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertandingan Didong dan Pacuan Kuda ini baru dianggap meriah apabila sudah berhadapan antara kesebelahan Cik yang diwakili oleh kampung Bebesan dengan kesebelasan kampung Bukit yang diwakili oleh kampung Kebayakan.
Dengan adanya asal-usul yang berbeda antara Cik dan Bukit, maka dapat diperkirakan bahwa etnik Gayo berasal dari kedua asal-usul tadi, yaitu dari Batak Tapanuli dan dari Pesisir Aceh bagian Utara. Dalam waktu yang cukup lama migrasi lokal antara kelompok Cik dan Bukit berlangsung secara Evolutif. Demikian juga dalam perkawinan campuran antara keduanya sering kali terjadi. Seiring dengan hal tersebut, maka akulturasi di bidang adat-istiadat dan kehidupan sosial ekonominya mempunyai pola yang sama pada masyarakat Gayo di Aceh Tengah, walaupun di sana-sini masih terdapat perbedaan.

Sumber Rujukan
Ical. 2009. Sejarah Gayo Lues. http://ical88.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=
Lidahtinta. 2009. Keragaman dan Kekayaan Etnis Alas. http://lidahtinta.wordpress.com/2009/07/28/keragaman-dan-kekayaan-etnis-alas/
Rusdi Sufi dkk. 1998. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Zulfikar Arma. 2009. Struktur Pemerintahan Raja Gayo Lues Pra-Penjajahan Belanda.

Monday, May 1, 2017

Dimus Srikandi Berjiwa Singa

Dimus Srikandi Berjiwa Singa
Belanda pada dasarnya berkehendak agar pejuang Gayo yang berada di setiap benteng dapat dan mau menyerah secara baik-baik, untuk menghindari jatuhnya korban. Untuk mencapai tujuan ini dipakai tangan orang ketiga, baik kejurun, pemuka agama, reje yang sudah menyerah dan lain-lain. Juga taktik menakuti pejuang yang belum menyerah dengan memberi contoh-contoh tindakan Belanda atas benteng pejuang yang telah kalah.
Setelah benteng Penosan jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 11 Mei 1904, Van Daalen mengirim surat kepada pejuang Tampeng, agar menyerah. Surat ini diantar oleh kurir yang pandai tulis baca, dan ahli dalam diplomasi. Kurir meminta agar pejuang Tampeng menyerah saja.
Kurir : “Kati nti naeh deletu jema mate, harta hancur, kampung hancur, kune perahanme ike kite bersebet padih urum pake si gehni. Ku rasa dele manfaat’e ari mudarat’e. Engonkam Pasir, hancur, Gemunyang si kuet royo, Durin, lumet, Badak nlangak, Rikit Gaib meh, Penosan hangus. Nti kase kampung te nipeh lebih ari oya. Sayang rakyatte”.
Pejuang : “Seber kam, osah ku kami waktu, wasni 2 atau 3 lo ni kami osah keber ku kam. Geh mien kam kini, kati betih hasil’e kase”.
Kurir : “Jeroh-jeroh, wasni 3 lo ni kami geh mien”.
Terjemahan :
Kurir : “Agar supaya jangan lagi banyak jatuh korban, harta hancur, kampung hancur, bagaimana perasaan bapak-bapak kalau kita bersahabat saja dengan pendatang ini. Saya pikir lebih banyak mudaratnya. Coba bapak lihat Pasir hancur, Gemuyang kalah, Durin kalah, Badak kalah, Rikit Gaib kalah, Penosan kalah. Jangan nanti kampung kita inipun lebih hancur lagi. Sayang rakyat”.
Pejuang : “Sabar bapak, kasih kesempatan kepada kami dalam 2 a 3 hari ini baru kami beri kabar. Datang lagi bapak kemari supaya tahu bagaimana hasilnya”.
Kurir : “Baiklah kalau begitu dalam 2 a 3 hari ini kami datang”.
Pada malam harinya, pejuang benteng Tampeng, mengadakan rapat di atas mersah Tampeng di bawah pimpinan Reje Cik Tampeng, dihadiri oleh para panglime, antara lain yang dari luar kampung Aman Linting, Aman Jata, Abdussamad Kejurun Bambel, Tanah Alas dan Kurir Belanda sendiri. Acara rapat yang utama adalah membahas ultimatum Van Daalen. Dalam pembahasan ini forum terbagi dua, ada yang berkeras perang dan lebih banyak berdamai dengan Belanda. Tidak ada titik temu, masing-masing mempertahankan argumennya. Bukan lagi rapat, tapi sudah mengarah ke pertengkaran, pecah kongsi, dan hampir saja pedang ikut berbicara. Suasana di atas mersah panas, sedangkan suasana di bawah mersah yang dihuni oleh perempuan dan anak-anak mencekam. Mereka, kaum ibu, memperhatikan, pembicaraan kaum bapak, secara cermat dan sebagian dari ibu yang berjiwa panglima sangat menyesalkan pertengkaran kaum bapak yang dianggap menghabiskan tenaga saja.
Pada saat itulah ada seorang ibu yang bernama Dimus bernyanyi, bersendung, untuk mengajak anaknya agar cepat tidur. Dalam senandung beliau berharap agar anaknya cepat tidur, dan mengharap kepada anaknya agar mengizinkan ibunya bersabung dengan Belanda, dan kalau anaknya ingin “nyusu” mintalah kepada ayahnya si pengecut, kalau kelak ibunya gugur.

Senandung Dimus kira-kira demikian :
- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku mutuah, anakku sibebahagie
- Nti naeh mongot berkolak awah
- Inemu male betengkah urum Belene

- Ateni amanmu nge dabuh gunah
- Nge nerah langkah nsangka ku uten rime
- Kedelen’e jema rawan nge nyarungni lopah
- Gere naeh ara ken panglime

- Ike inemu mate, ko gere dalih mongot bersebuku
- Ike ko nlape ku amamu ko niro susu
- ike ko kul, ko torah nuntut ilmu
- Kati nguk mbelaku, nti ngeson lagu amamu

- Anakku nomeni renye nome, aku male nremes luju
- Luju ken alatku anakku urum Belene bejalu
- Aku gere terih aku gere takut anakku
- Ume garang pelulut ini inemu

- Oi jema rawan urang Tampeng
- Ke ngon kam gotol-gotol gere rengkeng
- Belene male geh nguk kam terih
- Reje Alas nge geh mbantu kite kunulle gere tak lah tapi tak iwih

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu

Terjemahan :

- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku bertuah, anakku yang berbahagia
- Jangan lagi kau kuat-kuat menangis
- Ibumu mau bersabung dengan Belanda

- Hati bapakmu sudah gundah
- Sudah mencari langkah, lari ke hutan rimba
- Kebanyakan orang laki sudah menyarung pisau
- Tak ada lagi berjiwa panglima

- Kalau ibumu sahid, jangan engkau bersedu sedan
- Kalau kau lapar, minta susu kepada bapakmu
- Kalau kau sudah besar, tuntutlah ilmu
- Biar dapat kau membantu ibu, jangan penakut seperti bapakmu

- Tidurlah tidur anakku, ibumu mau mengasah pedang
- Untuk alatku berlaga dengan Belanda
- Ibu tak gentar, tak takut anakku
- Bukan bapak penakut ini ibumu

- Oi pahlawan Tampeng
- Kulihat kalian gemuk-gemuk, tidak kurus
- Belanda datang, kok kalian takut
- Raja Alas datang membantu kita

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu
Rupanya jangin Dimus ini didengar oleh pejuang di atas mersah, mereka terdiam seluruhnya. Ketika itulah Dimus naik ke mersah memarahi para pejuang.
“Ooooiii ………he he he para panglime si gagah berani, Belene geh, kam takut, garang pelulut, jegekam anakni kami, osan luju mea ku kami jema benen, kati engonkam kami bersabung urum ‘kafir’ Belene. Kam gere kemel ken Reje Alas si geh mbantu kite. Besilo peri singket, sahan si mera dame urum Belene, turun ari mersah ini, taring i atasni alat me, dan si milih perang, taring i mersah ini”.
Terjemahan :
“Ooooiii ………para panglima yang gagah berani. Belanda datang kalian takut, garang pelulut jaga anak kami ini, berikan alat kalian kepada kami kaum perempuan, supaya kalian lihat kami bersabung dengan Belanda. Kalian tak malu kepada Raja Alas yang jauh-jauh datang membantu kita. Siapa yang mau damai dengan Belanda turun dari mersah ini letakkan senjata dan yang memilih perang tinggal diatas mersah ini”
Mendengar “pidato” Dimus ini, serentak seluruh peserta rapat mengucap.
“Allahu Akbar, perang, Allahu Akbar, perang”
Sambil berpelukan dan menangis satu dengan yang lain pilihan telah bulat ……………. Perang.
KISAH Inen Mayak Tri dan Dimus srikandi berjiwa singa ditulis oleh Kapten HERMAN AGERBEEK, komandan Divisi I marsose Blangkejeren. Herman Agerbeek adalah seorang penulis yang sangat kreatif, bahkan Zentgraaff penulis buku ATJEH berani mengatakan bahwa karya Agerbeek melebihi karya penulis besar C S H.
Cerita ini terdapat pada catatan MEMORI AKHIR JABATAN tahun 1928 yang tersimpan rapi di PDIA Banda Aceh.
Tulisan tersebut disesuaikan dengan sudut pandang Indonesia oleh penulis.
Oleh: Drs. H.Salim Wahab

Saturday, April 29, 2017

Kejurun; Asosiasi Masyarakat Gayo Berdasarkan Keturunan

Kejurun; Asosiasi Masyarakat Gayo Berdasarkan Keturunan
Di daerah Aceh Gayo telah berdiri asosiasi sosial yang bernama kejurun. Kejurun, adalah sebuah terminologi atau sebutan nama untuk daerah di daerah Gayo, yang memiliki wilayah-wilayah tertentu yang terdiri dari empat desa tradisional Gayo. Selain masyarakat Gayo, istilah ini juga digunakan oleh Masyarakat Alas, kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Timur, dan masyarakat Karo.
Di daerah Aceh Gayo terdapat 8 daerah kejurun, yaitu 6 kejurun di daerah tanah Gayo dan 2 kejurun di daerah Tanah Alas. Di daerah Gayo lebih dahulu berdiri 4 kejurun yaitu: Kejurun Bukit yang mula-mula berkedudukan di Bebesan, kemudian dipindahkan ke kebayakan yang tidak jauh dari Bebesan. Selanjutnya terbentuk kejurun Linge yang berkedudukan di daerah Gayo Linge. Kejurun Siah Utama yang berkedudukan di kampung Nosar di pinggir Danau Laut Tawar; dan berdiri kejurun Petiamang yang berkedudukan di Gayo Lues.
Lama kemudian setelah berdirinya keempat kejurun di atas, baru berdiri pula kejurun kelima yaitu kejurun Bebesan yang berkedudukan di Bebesan di tempat kedudukan kejurun Bukit semula. Keenam berdiri kejurun Abuk di daerah Serbejadi. Di daerah Tanah Alas berdiri 2 kejurun yaitu kejurun Batu Mbulen yang berkedudukan di Batu Mbulen dan kejurun Bambel yang berkedudukan di Bambel.
Keempat kejurun di daerah Gayo Laut, Gayo Linge, dan Gayo Lues yaitu kejurun Bukit, kejurun Linge, kejurun Siah Utama dan kejurun Patiamang mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh. Demikian juga halnya dengan 2 kejurun di Tanah Alas, kedua-duanya mendapat pengesahan dari Sultan Aceh, tetapi kejurun Bebesan dan kejurun Abuk tidak mendapatkan pengesahan dari Sultan Aceh.
Berdirinya kejurun Bebesan seperti yang diterangkan di atas, adalah akibat dari kedatangan orang-orang Batak Karo ke 27 ke Tanah Gayo. Antara kejurun Bukit dengan Batak Karo 27 terjadi suatu perselisihan, yang mengakibatkan terjadinya peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak Batak 27 dan kekalahan kejurun Bukit. Dalam suatu perundingan damai, akhirnya kedudukan kejurun Bukit terpaksa dipindahkan dari Bebesan ke Kampung Kebayakan. Sedang di Bebesan didirikan Raja Cik Bebesan yang berkedudukan di Bebesan yang dipimpin oleh Lebe Kader yaitu pemimpin pasukan Batak Karo 27, yang menguasai daerah-daerah sekitarnya, dan membagi dua daerah kejurun Bukit. Setengah untuk kejurun Bukit dan separuh untuk Raja Cik (penghulu) Bebesan. Raja Cik Bebesan inilah yang kemudian berkembang dan menjadi Kejurun Bebesan sampai kedatangan Belanda tahun 1904 (M.H. Gayo 1990:25).
Menurut cerita orang-orang Gayo dahulu, kelompok Cik berasal dari orang-orang Batak Tapanuli. Orang-orang Batak Tapanuli ini lebih popular disebut dengan Batak ke 27 seperti asal-usul orang-orang dari kampung Bebesan (Melalatoa, 1971:92). Pada waktu yang lampau mereka berasal usul dari 27 orang Batak Tapanuli yang datang ke Aceh Tengah.
Menurut cerita, orang-orang Batak Tapanuli ini kebanyakan dahulu bertempat tinggal dikampung yang sekarang disebut Bebesan. Karena kedatangan Batak Tapanuli ini ke kampung Bebesan, maka orang-orang Kebayakan kemudian mengungsi dari kampung Kebayakan. Orang-orang Batak Tapanuli ke 27 ini sebagian menikmati tinggal di kampung Kebayakan tadi, yang kemudian mereka menetap di Kampung Bebesan.
Selanjutnya orang-orang Bukit yang berasal dari orang-orang pantai Utara Aceh, seperti orang-orang dari kampung Kebayakan tadi. Menurut Melalatoa, orang-orang kampung Bebesan dan orang-orang kampung Kebayakan mempunyai asal-usul yang sama. Karena kedua-duanya masih mengenal Belah atau Klen, walaupun demikian nama-nama belah atau Klen itu tidaklah sama. Karena Belah merupakan Klen besar dari pengaruh perkembangan Sedere. Diantara mereka masih merasa dirinya mempunyai satu keturunan yang sama, satu masa lampau yang sama, dan satu sistem sosial yang sama pula.
Jika diperhatikan dari segi perbedaan adat istiadat, maka akan tampak pula pada segi keseniannya, seperti kesenian Didong dan Pacuan Kudanya yang diselenggarakan hampir setiap tahun, yang pada umumnya bertepatan dengan bulan Agustus untuk merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertandingan Didong dan Pacuan Kuda ini baru dianggap meriah apabila sudah berhadapan antara kesebelahan Cik yang diwakili oleh kampung Bebesan dengan kesebelasan kampung Bukit yang diwakili oleh kampung Kebayakan.
Dengan adanya asal-usul yang berbeda antara Cik dan Bukit, maka dapat diperkirakan bahwa etnik Gayo berasal dari kedua asal-usul tadi, yaitu dari Batak Tapanuli dan dari Pesisir Aceh bagian Utara. Dalam waktu yang cukup lama migrasi lokal antara kelompok Cik dan Bukit berlangsung secara Evolutif. Demikian juga dalam perkawinan campuran antara keduanya sering kali terjadi. Seiring dengan hal tersebut, maka akulturasi di bidang adat-istiadat dan kehidupan sosial ekonominya mempunyai pola yang sama pada masyarakat Gayo di Aceh Tengah, walaupun di sana-sini masih terdapat perbedaan.

Sumber Rujukan
Ical. 2009. Sejarah Gayo Lues. http://ical88.multiply.com/?&show_interstitial=1&u=
Lidahtinta. 2009. Keragaman dan Kekayaan Etnis Alas. http://lidahtinta.wordpress.com/2009/07/28/keragaman-dan-kekayaan-etnis-alas/
Rusdi Sufi dkk. 1998. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.
Zulfikar Arma. 2009. Struktur Pemerintahan Raja Gayo Lues Pra-Penjajahan Belanda.