Tuesday, March 12, 2013

Gelar Semu Masyarakat Gayo Lues

Gelar Semu Masyarakat Gayo Lues
Para antropolog mengatakan bahwa orang Gayo, sama dengan orang Batak, punya gelar semu. Gelar atau nama yang bukan sebenarnya, dan atau panggilan yang bukan sebernarnya.
Liku-liku gelar semu ini diatur sebagai berikut :
Seseorang (katakanlah namanya si Ali), bila belum kawin, namanya dapat dipanggil Ali, oleh orang-orang yang lebih tua dari dia, atau dalam bahasa antropologi disebut derajat tutur. Bila Ali sudah kawin, tetapi belum punya anak, nama Ali tidak boleh lagi menjadi nama panggilan, derajat Ali naik satu tingkat, dan sebutan baru adalah aman mayak. Beberapa bulan kemudian lahir anaknya laki-laki, maka si Ali mendapat gelar baru sebagai aman win; win adalah panggilan untuk anak laki-laki di daerah Gayo, Aceh = agam, Batak = ucok, Minang = buyung. Bila anaknya lahir perempuan, maka panggilan si Ali menjadi aman ipak, ipak panggilan untuk anak perempuan secara khusus, sedangkan secara umum disebut etek, Aceh = inong, Batak = butet. Bila anak yang lahir ini telah diberi nama, misalnya bila anak yang lahir ini telah diberi nama, misalnya Seman atau Timah, maka si Ali dipanggil Aman Seman, atau kalau anaknya perempuan tadi dia dipanggil Aman Timah. Panggilan terhadap Ali ini, walaupun dia sudah bergelar Aman Timah, misalnya, dia boleh saja dipanggil Aman ipak, atau Aman win, panggilan seperti ini lebih halus dan bersifat kekeluargaan, serta agak terhormat. Gelar semu ini akan berlanjut terus beberapa tingkat lagi. Bila si Seman, anak Ali tadi kawin dan belum punya anak, maka si Ali mendapat gelar semu sebagai Empun Mayak, dan bila cucu pertama lahir, belum diberi nama, gelar baru si Ali adalah Empun Win, atau Empun Ipak, bila cucu pertamanya adalah perempuan dan belum diberi nama, atau Empun Timah, bila cucunya yang pertama bernama Timah.
Serupa dengan gelar semu Ali di atas, maka berlaku juga bagi isteri si Ali, yang bernama Unah. Kalau untuk si Ali Aman Mayak, maka untuk Unah Inen Mayak, demikian juga Aman Win bagi si Ali, maka Inen Win, bagi Unah, aman Seman bagi Ali, Inen Seman bagi si Unah.
Misalkan cucu I perempuan bernama Bumah    Aman Mayak
Inen Mayak
Aman Win/Aman Seman
Inen Win/Inen Seman
Aman Ipak/Aman Timah
Inen Ipak/Inen Timah
Empun Mayak
Empun Mayak
Empun Husin/Empun Win
Empun Husin/Empun Win
Empun Bumah/Empun Ipak
Empun Bumah/Empun Ipak    Baru kawin belum
punya anak
Anak pertama
Laki-laki/Seman
Anak pertama perempuan bernama Timah
Seman sudah kawin tapi belum punya anak
Cucu pertama bernama Husin
Misalkan cucu I perempuan bernama Bumah

Jika dilihat arti sebenarnya, aman itu asal katanya adalah ama yang di dalam bahasa Gayo, berarti bapak, ni = nya, Aman Minah – amani Minah – bapak si Minah; inen berasal dari kata ine – ibu/mamak, ine ni Husin – ibu (nya) Husin. Empu – nenek; Empun Dulah – nenek/kakeknya Dulah.
Barangkali ada baiknya kita singgung sedikit apa yang diistilahkan oleh antropologi dengan derajat tutur tadi. Kita mulai dengan ego. Bila ditarik garis secara vertikal, terdapat pada garis pertama, yaitu ama/bapak, dan ine/ibu. Adik bapak yang laki-laki dipanggil ujang, dan yang perempuan ibi, isteri ujang, dipanggil Ine Mayak, bila belum punya anak, Ine Win, bila anaknya yang pertama laki-laki, Ine Ipak, bila anak pertamanya perempuan. Suami ibi dipanggil kail,  suatu panggilan yang tetap, walau kail ini kelak mempunyai anak atau cucu. Anak ujang dipanggil serinen/win, bila laki-laki, dan dengan bila perempuan. Anak ibi/kail dipanggil impel oleh ego. Abang ayah ego dipanggil uwe, demikian juga isterinya, tetap dipanggil uwe. Untuk membedakannya dipanggil uwe rawan, untuk laki-laki, dan uwe benen untuk yang  perempuan. Anak uwe yang laki-laki dipanggil abang, dan yang perempuan dipanggil aka; pada jalur kedua didapati mpawan/kakek Indonesianya, yaitu ayah-ayah ego, dan mpu enen, ibu-ayah ego; Indonesia = nenek. Panggilan untuk saudara kakek ini, sama saja, terkecuali kalau kakek tadi belum kawin, maka ego memanggilnya dengan mpujang/ dari kata mpubujang, bagi yang laki-laki, dan mpuberu, bagi yang perempuan. Pada jalur ketiga panggilannya adalah datu, untuk ayah-ayah-ayah ego. Datu ini juga untuk panggilan yang perempuan, datu rawan, dan datu benen. Di atas datu adalah muyang, muyang rawan dan benen.
Jalur ke bawah terdapatlah keadaan sebagai berikut :
Adik laki-laki/perempuan ego disebut ngi. Suami adik perempuan disebut lakun, anak lakun disebut until, abang ego disebut abang, kakak ego disebut aka, anak ego disebut anak, isteri anak disebut pemen, suami anak disebut kile. Anak pemen dan atau anak kile, disebut kumpu, dan anak kumpu disebut piut.
Pada jalur croos-causin pihak isteri ego terdapat suatu aturan tertentu pula. Isteri ego disebut ton umah, (halusnya dan kasarnya inen). Abang atau adik isteri laki-laki disebut lakun, dan suami adik isteri disebut periben. Orang tua isteri ego disebut mpurah.
Derajat tutur ini begitu memegang peranan penting, dan hamper tidak pernah terjadi tawar menawar. Seorang yang telah besar atau tua sekalipun harus memanggil ujang kepada anak kecil/anak kakeknya.
Bagaimana suami memanggil isteri dan sebaliknya ?
Biasanya suami memanggil kam kepada isterinya atau sebaliknya. Kam ini adalah kata halus dari kata ko/kau. Kam juga dimaksudkan sebagai panggilan anak muda kepada orang tua atau kepada kawan-kawannya yang banyak. Kalau kawan bicaranya hanya satu orang, maka kata kam tidak boleh dipergunakan. Bila disingkatkan adalah sebagai berikut :
Ama    =ayah ego,
Ine    =ibu ego,
Ujang    =adik ayah ego,
Uwe    =abang ayah ego,
Ibi    =saudara perempuan ayah ego,
Mpawan    =ayah ayah ego,
Mpuenen    =ibu ayah ego,
Mpujang    =saudara ayah, ayah ego, belum kawin,
Mpuberu    =saudara perempuan ayah, ayah ego, belum kawin,
Datu    =ayah atau ibu mpawan ego,
Muyang    =ayah atau ibu datu ego,
Abang    =abang ego,
Aka    =kakak ego,
Anak    =anak ego, baik laki atau perempuan,
Kumpu    =cucu ego,
Piut    =anak cucu ego,
Ngi    =adik ego,
Lakun    =ipar ego,
Kile    =menantu ego (laki-laki),
Pemen    =menantu ego (perempuan),
Ton numah=isteri ego,
Periben    =suami saudara isteri ego,
Mpurah    =mertua ego,
Kail    =suami bibi ego,
Pun    =saudara laki-laki ibu ego,
Inepun    =isteri pun,
Ama win    =ujang yang anak pertamanya lelaki,
Ama ipak=ujang yang anak pertamanya perempuan,
Ine mayak=isteri ujang, belum ada anak,
Aka mayak=isteri abang ego yang belum ada anak,
Abang mayak=abang ego yang baru kawin.

g.Garis Keturunan Orang Gayo Lues (Patrileneal/Kebapakan)
= Rawan
= Benen
1 = Amaku
2 = Ineku
3 = Awanku
4 = Enenku
5 = Datuku/rawan
6 = Datuku/benen
Datuku urang kampung Palok, maka :
Awanku urang kampung Palok, maka,
Amaku urang kampung Palok, maka,
Aku urang kampung Palok.
Ineku iango ari kampung Badak, besilo we jadi urang Palok,
Enenku iango ari kampung Penosan, besilo we jadi urang Palok,
Datuku si benen iango ari kampung Padang, besilo we jadi urang Palok.
Jadi menurut edet Gayo Lues, pake umahni, ine, enen, datu benen si berasal ari kampung laen, secara otomatis menjadi urang kampung datuku, dan seterusnya.