Responsive Ads Here

Monday, March 25, 2013

Sistem Pengetahuan

Sistem Pengetahuan
Melalui sistem pengetahuan, manusia mampu beradaptasi untuk menyesuaikan hidupnya dengan alam sekitarnya dan juga manusia mampu meningkatkan produktivitas kebutuhan hidupnya, misalnya meningkatkan produktivitas di bidang perburuan, penangkapan ikan, peternakan, dan pertanian.
Khusus untuk gayo Lues yang terletak di daerah pegunungan berhutan lebat mempunyai kekayaan sendiri berupa binatang hutan, baik yang dapat dimakan atau tidak seperti rusa, kijang, badak, gajah, mawas dan lain-lain. Dari semua binatang itu yang paling disenter manusia adalah rusa dan kijang. Kedua jenis binatang ini sering diburu, sangat disukai orang dagingnya. Namun sistem perburuan sejak zaman dulu masih memakai sistem yang sama, atau konvensional, yaitu dengan memakai jasa anjing. Kepala perburuan disebut pawang, seorang yang ahli dalam mencari tempat rusa, dapat menjinakkan rusa dalam arti rusa tidak akan berlari jauh, rusa lari hanya di sekitar radius yang telah ditentukan pawang. Sebelum berburu, pawang terlebih dahulu membacakan beberapa mantera, dan kepada orang yang ikut berburu diberikan beberapa syarat misalnya tidak boleh takabur, tidak boleh membunuh binatang yang tidak diburu. Kalau yang diburu rusa, lalu berjumpa dengan kijang, atau kancil, atau babi, maka binatang ini dibiarkan saja, tidak boleh dibunuh. Jumlah anjing pemburu, biasanya + 10 ekor dan seekor ditunjuk oleh pawang sebagai ketua.
Kalau misalnya, pawang menyakini di suatu tempat ada binatang buruan, maka dia memerintahkan anjing mencium bau binatang buruan di tanah. Anjing tahu di mana rusa berada, dan pawang memerintahkan anjing-anjing mengejar rusa. Dalam tempo beberapa jam biasanya rusa dapat ditangkap.
Daging rusa dibagi kepada orang yang ikut berburu, dengan syarat orang yang pertama kali menombak rusa tersebut dapat sebuah paha. Kepala rusa diberikan kepada pawang dan hati diberikan kepada anjing-anjing yang ikut berburu.
Satu syarat dalam pembagian daging buruan adalah siapapun orang yang tak ikut berburu tapi ikut melihat rusa yang dikejar, harus dapat bagian daging. Syarat lainnya, kalau boleh daging tidak diperjualbelikan.
Sistem pengetahuan ini dapat digolongkan sebagai berikut :
a.Dalam Bidang Penangkapan Ikan
Daerah Gayo Lues terletak di pegunungan. Ini artinya bahwa di pegunungan sungai kecil-kecil, karena hanya berupa hulu dari sungai yang besar-besar.
Daerah Gayo Lues adalah hulu sungai Tripe, inilah satu-satunya sungai yang agak besar di daerah ini. Karena itu penangkapan ikan tidak berkembang di daerah ini. Dapat dikatakan ikan hanya ditangkap dengan alat yang sama dari masa-ke masa, yaitu dengan jala, pancing. Ada juga penangkapan ikan dengan alat lain seperti tangguk, tapi hanya kecil-kecilan. Jenis ikan di daerah Gayo Lues juga terbatas seperti gegaring, denung, bado, ikan mas, maut dan lain-lain. Sekarang ini banyak orang membuat kolam dengan memelihara ikan mas, maut dan mujahir. Pokoknya dalam bidang perikanan belum memakai alat tangkap yang mutakhir/modern.
b.Dalam Bidang Peternakan
Daerah pegunungan yang dingin, biasanya tanah miring, dengan kemiringan sampai 45ยบ. Tanah yang landai, rata, sangat kurang jumlahnya. Ini berarti lapangan tempat hewan mencari makan cukup luas karena daerah tersebut tak dapat dipergunakan untuk pertanian. Karena luasnya daerah tempat hewan cari makan, maka pada umumnya hewan dilepas saja, suruh cari makan sendiri, tanpa digembala. Orang kadang-kadang hanya melihat kerbaunya sebulan sekali. Memang benar ada juga yang mengadangkan lembu, kambing, domba, dan lain-lain, tapi jumlahnya sangat sedikit. Dengan membiarkan hewan itu saja dia gemuk-gemuk untuk apa susah-susah mencari makanannya, dan mengandangkannya. Boleh dikatakan teknologi untuk meningkatkan hasil ternak masih belum ada, masih memakai teori lama. Hasil yang dapat diharapkan dari bidang ini hanya dari hasil penjualan kerbau dan lembu, sedangkan kambing, biri-biri hanya untuk keperluan sendiri.
c.Dalam Bidang Pertanian
Pertanian yang diandalkan di daerah ini hanya sawah dan ladang. Boleh dikatakan sawah tidak mencukupi. Maklumlah penduduk semakin bertambah, sedangkan areal persawahan masih tetap. Akibatnya timbul masalah tetap tinggal di daerah ini, dengan ketentuan siap menghadapi kelaparan, atau pindah ke daerah lain yang areal persawahannya luas. Pada umumnya orang memilih pilihan kedua. Daerah yang dipilih adalah Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Tamiang.
Pengolahan sawah dapat diuraikan sebagai berikut :
Pada umumnya sawah berpaya, tumbuh rumput tinggi. Untuk ini mula-mula dikerahkan beberapa ekor kerbau ke sawah ini. Kerbau-kerbau ini diusahakan berkeliing petak sawah pada pagi hari kira-kira 2 jam. Dalam bahasa Gayo Lues disebut nlajang. Pekerjaan mengusir kerbau di petak sawah, disebut ngoro. Bila tanah sudah lumat, maka barulah manusia turun menata sawah untuk siap ditanami. Pengolahan tanah biasa dilakukan dengan memakai cangkul.
Kalau perlu urutan pengerjaan sawah di Gayo Lues kita urutkan sebagai berikut :
Sawah yang rumputnya tinggi-tinggi, maka langkah pertama nlajang.
Sawah yang rumputnya tidak tinggi, maka langkah pertama mencangkul.
Langkah berikutnya nerlis,membersihkan pematang.
Mencangkul kedua kalinya,
Ngoro lagi
Mematal/memperbaharui pematang
Memerjak    menginjak-injak tanah supaya lumat.
Murulah        meratakan tanah.
Menanam padi    Munomang
Muruah        menyiangi rumput
Membersihkan pematang
Memeo        mengusir burung.
Munuling    memotong padi.
Meminuh        mengumpulkan padi.
Njik        merontokkan padi.
Munangin    mengangin padi biar bersih
Mutuyuh        membawa padi ke umah/rumah
d.Dalam Bidang Perkebunan
Perkebunan belum menggembirakan hasilnya masih belum dikelola dengan baik. Tanaman perkebunan yang utama adalah kopi, dan tembakau. Dari kedua tanaman ini tembakaulah yang banyak membantu ekonomi rakyat. Hasilnya dijual ke luar daerah terutama ke Aceh Barat-Selatan, dan ke Sumatera Utara.
Akhir-akhir ini memang pemerintah sangat mengalakkan perkebunan ini dengan membantu bibit dan biaya pengolahan. Tanaman yang digalakkan adalah kopi, coklat, dan pisang. Namun hasilnya tentu belum kelihatan.
e.Dalam Bidang Perdagangan
Mungkin, sekali lagi mungkin, karena modal kurang pada awalnya, maka orang gayo Lues tidak banyak terjun ke dunia perdagangan. Dari dahulu perdagangan di Gayo Lues, dimonopoli oleh pendatang. Warung misalnya, bertebaran di kota Blangkejeren, tetapi tidak satupun kepunyaan orang Gayo Lues. Hampir seluruhnya dikuasai       “ urang awak ”. warung yang menjual mie dan martabak dikuasai oleh “ awak geutanyo ”, toko emas dikuasai oleh “ halak kita ”. Ketiga pendatang ini yang mengatur dan menguasai perdagangan daerah Gayo Lues. Namun demikian, akhir-akhir ini anak negeri mulai bergerak di bidang perdagangan kecil-kecil, seperti tokeh kerbau, lembu, dan barang kelontong.