Responsive Ads Here

Wednesday, April 26, 2017

INEN MAYAK TRI

INEN MAYAK TRI
Pada penghujung perang Belanda di Aceh, tahun 1890 an, Aceh bagian utara dan timur semakin bergejolak dengan seru. Belanda semakin menambah kekuatannya, dalam usaha mengejar srikandi Cut Meutia di Aceh bagian utara dan T. Tapa di Aceh bagian timur, tepatnya di Idi dan Peureula. Bahkan T. Tapa pernah merebut kota Idi dari tangan Belanda. Pada siang hari keadaan aman-aman saja, tetapi pada malam hari serangan tidak pernah berhenti. Keadaan tentara Belanda sama dengan seekor monyet yang diikat di tiang, kekuasaannya hanya sepanjang tali pengikat sekitar tiang ikatan.

 Akhirnya Belanda berkesimpulan, bahwa T. Tapa harus dikejar ke pedalaman, ke daerah Kejurun Abok dan sekitarnya. Operasi militer harus digencarkan dari arah Idi/Peureula, dan dari arah tamiang. Daerah kekuasaan T. Tapa harus dipersempit dan rakyat di sekitar Kekejuruan Abok harus diambil hatinya agar memihak Belanda atau diintimidasi.
Keadaan jadi terbalik. Kalau dulu yang menyerang pasukan T. Tapa dan Belanda bertahan, sekarang pasukan Belanda yang menyerang dan pasukan T. Tapa bertahan, atau berpindah-pindah tempat. Dalam keadaan seperti ini taktik Belanda agak berhasil. Banyak daerah, penduduknya memihak Belanda, memusuhi pasukan T. Tapa dan sebaliknya banyak pejuang yang meninggalkan kampungnya, bergabung dengan pasukan T. Tapa, bergerilya dari satu daerah ke daerah lain.
Dari sekian banyak pemuda yang bergabung dengan pasukan T. Tapa adalah seorang pemuda yang bernama Hasan. Hasan ini baru kawin dengan seorang pemudi yang bernama Tripah, yang di Gayo disingkat saja dengan pangilan Tri. Sesuai dengan adat Gayo, nama Hasan seolah-olah hilang berganti Aman Mayak, sedangkan Tripah menjadi Inen Mayak, untuk julukan orang yang baru kawin. Untuk membedakan dengan Inen Mayak yang lain, maka nama Inen Mayak Tripah jadi dipanggil singkat saja INEN MAYAK TRI. Pasangan yang baru kawin ini berasal dari Pining.
Mobilisasi tadi terjadi tahun 1898, di seluruh kampung dalam Kekejuruan Abok. Pemuda yang mendaftar, pada umumnya bersenang hati, dapat berperang dengan kafir, dan kalaupun mati, mati syahid namanya. Aman Mayak bergabung dengan pasukan Pining, dan dikirim latihan perang ala kadarnya ke Lukup. Dari Lukup baru dilatih perang di sekitar Peureula dan Idi.
Wajib militer tidak ditentukan batas waktunya. Bagi yang sudah berkeluarga diberi cuti pulang kampung setiap 6 bulan bila memungkinkan. Aturan ini diberitahu kepada famili di kampung sebelum berangkat. Demikianlah, setelah 6 bulan berlalu, AMAN MAYAK, belum juga pulang. Kabar tidak ada, pun setelah 12 bulan belum juga pulang, Inen Mayak Tri mulai was-was, jangan-jangan………………… kabar tidak ada kawan suami tidak ada yang pulang, mau ditanya kepada orang tua dan atau mertua malu