Responsive Ads Here

Monday, May 1, 2017

Dimus Srikandi Berjiwa Singa

Dimus Srikandi Berjiwa Singa
Belanda pada dasarnya berkehendak agar pejuang Gayo yang berada di setiap benteng dapat dan mau menyerah secara baik-baik, untuk menghindari jatuhnya korban. Untuk mencapai tujuan ini dipakai tangan orang ketiga, baik kejurun, pemuka agama, reje yang sudah menyerah dan lain-lain. Juga taktik menakuti pejuang yang belum menyerah dengan memberi contoh-contoh tindakan Belanda atas benteng pejuang yang telah kalah.
Setelah benteng Penosan jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 11 Mei 1904, Van Daalen mengirim surat kepada pejuang Tampeng, agar menyerah. Surat ini diantar oleh kurir yang pandai tulis baca, dan ahli dalam diplomasi. Kurir meminta agar pejuang Tampeng menyerah saja.
Kurir : “Kati nti naeh deletu jema mate, harta hancur, kampung hancur, kune perahanme ike kite bersebet padih urum pake si gehni. Ku rasa dele manfaat’e ari mudarat’e. Engonkam Pasir, hancur, Gemunyang si kuet royo, Durin, lumet, Badak nlangak, Rikit Gaib meh, Penosan hangus. Nti kase kampung te nipeh lebih ari oya. Sayang rakyatte”.
Pejuang : “Seber kam, osah ku kami waktu, wasni 2 atau 3 lo ni kami osah keber ku kam. Geh mien kam kini, kati betih hasil’e kase”.
Kurir : “Jeroh-jeroh, wasni 3 lo ni kami geh mien”.
Terjemahan :
Kurir : “Agar supaya jangan lagi banyak jatuh korban, harta hancur, kampung hancur, bagaimana perasaan bapak-bapak kalau kita bersahabat saja dengan pendatang ini. Saya pikir lebih banyak mudaratnya. Coba bapak lihat Pasir hancur, Gemuyang kalah, Durin kalah, Badak kalah, Rikit Gaib kalah, Penosan kalah. Jangan nanti kampung kita inipun lebih hancur lagi. Sayang rakyat”.
Pejuang : “Sabar bapak, kasih kesempatan kepada kami dalam 2 a 3 hari ini baru kami beri kabar. Datang lagi bapak kemari supaya tahu bagaimana hasilnya”.
Kurir : “Baiklah kalau begitu dalam 2 a 3 hari ini kami datang”.
Pada malam harinya, pejuang benteng Tampeng, mengadakan rapat di atas mersah Tampeng di bawah pimpinan Reje Cik Tampeng, dihadiri oleh para panglime, antara lain yang dari luar kampung Aman Linting, Aman Jata, Abdussamad Kejurun Bambel, Tanah Alas dan Kurir Belanda sendiri. Acara rapat yang utama adalah membahas ultimatum Van Daalen. Dalam pembahasan ini forum terbagi dua, ada yang berkeras perang dan lebih banyak berdamai dengan Belanda. Tidak ada titik temu, masing-masing mempertahankan argumennya. Bukan lagi rapat, tapi sudah mengarah ke pertengkaran, pecah kongsi, dan hampir saja pedang ikut berbicara. Suasana di atas mersah panas, sedangkan suasana di bawah mersah yang dihuni oleh perempuan dan anak-anak mencekam. Mereka, kaum ibu, memperhatikan, pembicaraan kaum bapak, secara cermat dan sebagian dari ibu yang berjiwa panglima sangat menyesalkan pertengkaran kaum bapak yang dianggap menghabiskan tenaga saja.
Pada saat itulah ada seorang ibu yang bernama Dimus bernyanyi, bersendung, untuk mengajak anaknya agar cepat tidur. Dalam senandung beliau berharap agar anaknya cepat tidur, dan mengharap kepada anaknya agar mengizinkan ibunya bersabung dengan Belanda, dan kalau anaknya ingin “nyusu” mintalah kepada ayahnya si pengecut, kalau kelak ibunya gugur.

Senandung Dimus kira-kira demikian :
- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku mutuah, anakku sibebahagie
- Nti naeh mongot berkolak awah
- Inemu male betengkah urum Belene

- Ateni amanmu nge dabuh gunah
- Nge nerah langkah nsangka ku uten rime
- Kedelen’e jema rawan nge nyarungni lopah
- Gere naeh ara ken panglime

- Ike inemu mate, ko gere dalih mongot bersebuku
- Ike ko nlape ku amamu ko niro susu
- ike ko kul, ko torah nuntut ilmu
- Kati nguk mbelaku, nti ngeson lagu amamu

- Anakku nomeni renye nome, aku male nremes luju
- Luju ken alatku anakku urum Belene bejalu
- Aku gere terih aku gere takut anakku
- Ume garang pelulut ini inemu

- Oi jema rawan urang Tampeng
- Ke ngon kam gotol-gotol gere rengkeng
- Belene male geh nguk kam terih
- Reje Alas nge geh mbantu kite kunulle gere tak lah tapi tak iwih

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu

Terjemahan :

- La ilah haillallaa, Muhammadur Rasul Allah,
- Anakku bertuah, anakku yang berbahagia
- Jangan lagi kau kuat-kuat menangis
- Ibumu mau bersabung dengan Belanda

- Hati bapakmu sudah gundah
- Sudah mencari langkah, lari ke hutan rimba
- Kebanyakan orang laki sudah menyarung pisau
- Tak ada lagi berjiwa panglima

- Kalau ibumu sahid, jangan engkau bersedu sedan
- Kalau kau lapar, minta susu kepada bapakmu
- Kalau kau sudah besar, tuntutlah ilmu
- Biar dapat kau membantu ibu, jangan penakut seperti bapakmu

- Tidurlah tidur anakku, ibumu mau mengasah pedang
- Untuk alatku berlaga dengan Belanda
- Ibu tak gentar, tak takut anakku
- Bukan bapak penakut ini ibumu

- Oi pahlawan Tampeng
- Kulihat kalian gemuk-gemuk, tidak kurus
- Belanda datang, kok kalian takut
- Raja Alas datang membantu kita

- Ooooi………….. hu………..hu……….hu……….hu
Rupanya jangin Dimus ini didengar oleh pejuang di atas mersah, mereka terdiam seluruhnya. Ketika itulah Dimus naik ke mersah memarahi para pejuang.
“Ooooiii ………he he he para panglime si gagah berani, Belene geh, kam takut, garang pelulut, jegekam anakni kami, osan luju mea ku kami jema benen, kati engonkam kami bersabung urum ‘kafir’ Belene. Kam gere kemel ken Reje Alas si geh mbantu kite. Besilo peri singket, sahan si mera dame urum Belene, turun ari mersah ini, taring i atasni alat me, dan si milih perang, taring i mersah ini”.
Terjemahan :
“Ooooiii ………para panglima yang gagah berani. Belanda datang kalian takut, garang pelulut jaga anak kami ini, berikan alat kalian kepada kami kaum perempuan, supaya kalian lihat kami bersabung dengan Belanda. Kalian tak malu kepada Raja Alas yang jauh-jauh datang membantu kita. Siapa yang mau damai dengan Belanda turun dari mersah ini letakkan senjata dan yang memilih perang tinggal diatas mersah ini”
Mendengar “pidato” Dimus ini, serentak seluruh peserta rapat mengucap.
“Allahu Akbar, perang, Allahu Akbar, perang”
Sambil berpelukan dan menangis satu dengan yang lain pilihan telah bulat ……………. Perang.
KISAH Inen Mayak Tri dan Dimus srikandi berjiwa singa ditulis oleh Kapten HERMAN AGERBEEK, komandan Divisi I marsose Blangkejeren. Herman Agerbeek adalah seorang penulis yang sangat kreatif, bahkan Zentgraaff penulis buku ATJEH berani mengatakan bahwa karya Agerbeek melebihi karya penulis besar C S H.
Cerita ini terdapat pada catatan MEMORI AKHIR JABATAN tahun 1928 yang tersimpan rapi di PDIA Banda Aceh.
Tulisan tersebut disesuaikan dengan sudut pandang Indonesia oleh penulis.
Oleh: Drs. H.Salim Wahab