Saturday, May 27, 2017

Kekejaman Belanda di Gayo Lues

Kekejaman Belanda di Gayo Lues dan Tanah Alas sungguh luar biasa, lain dari kekejaman mereka di daerah lain.
Bila diteliti ada beberapa faktor penyebab antara lain, sebagai berikut :
a. Gubernur Sipil dan Militer Aceh, secara rutin setiap tahun mengeluarkan bulletin, kumpulan kegiatan setiap bulan selama 12 bulan. Dari sekian bulletin yang terbaca, adalah Buletin tahun 1907 yang paling penting untuk diulas. Rupanya Pucuk Pimpinan Militer di Aceh menghendaki agar sebelum bulan Agustus tahun 1904 seluruh daerah Aceh dapat ditaklukkan. Seperti diketahui sampai akhir 1903 daerah yang belum takluk kepada Belanda di daerah Aceh tinggal Gayo Lues dan Tanah Alas. Kehendak ini disampaikan ke Batavia, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Gubernur Jenderal pun bersetuju dengan batas waktu sebelum Agustus 1904, dengan maksud agar kabar gembira ini dipersembahkan kepada Ratu Belanda, sebagai kado, suatu keberhasilan Belanda mengalahkan Aceh, bangsa yang sangat perkasa melawan Belanda di seluruh Hindia Belanda. Van Heutsz dan pimpinan Militer Belanda di Kutaraja sangat gembira menyambut persetujuan Gubernur Jenderal ini. Gubernur Jenderal sendiri, di satu pihak dan Gubernur Sipil Militer Aceh dan Van Daalen di pihak lain membuat suatu MoU, pemufakatan, kalau Aceh dapat ditaklukkan sebelum Agustus 1904, maka Gubernur Jenderal dipromosikan menjadi Menteri Jajahan, Van Heutsz diusulkan promosi ke Batavia sebagai Gubernur Jenderal dan Van Daalen diusulkan promosi menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh, dan sebaliknya jika gagal, maka Van Heutsz dan Van Daalen harus masuk kotak, pulang kampung.
Cita-cita ketiga anak manusia ini tercapai pada bulan Juli 1904 kedua daerah Gayo Lues dan Tanah Alas takluk, berarti seluruh Aceh telah takluk. Pada bulan Agustus 1904 Gubernur Jenderal Hindia Belanda menyerahkan kado ini kepada Ratu Belanda pada perayaan Ulang Tahun ratu yang diperingati setiap bulan Agustus.
Tidak berapa lama kemudian Gubernur Jenderal diangkat menjadi Menteri Jajahan. Van Heutsz diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia dan Van Daalen diangkat menjadi Gubernur Sipil Militer Aceh di Kutaraja. Pucuk dicinta ulam tiba kata mereka.
b. Untuk mewujudkan cita-cita Gubernur Jenderal dan Gubernur Sipil Militer tersebut diatas Van Heutsz selaku Gubernur Sipil Militer Aceh, secara selektif harus memiliki perwira Belanda yang akan menjalani tugas yang maha penting tersebut, sebab kalau gagal, jabatan dan harga diri taruhannya. Setelah dipertimbangkan dengan secara seksama, dari sekian perwira yang berdedikasi tinggi akhirnya pilihan jatuh ke tangan Van Daalen. Kepada Van Daalen diberi tugas untuk menaklukkan Gayo Lues dan Tanah Alas sebelum bulan Agustus 1904, dan kalau gagal pangkat akan diturunkan dan dipulangkan/pindah. Van Daalen menyanggupi syarat ini. Kalau sudah demikian, pertimbangan akal sehat hilang dan pelanggaran HAM akan dikesampingkan.
c. Perjalanan pasukan Van Daalen melalui hutan belantara sangat-sangat menguras tenaga, pikiran dan pertimbangan kemanusiaan. Tugas mereka mengalahkan Gayo Lues dan Tanah Alas harus tercapai, karena itu di dalam prakteknya nanti segala penderitaan di perjalanan ini akan dilampiaskan kepada musuh yang dihadapi kelak. Tujuan ini menghalalkan segala cara.

d. Pada tanggal 27 September 1901, berangkatlah pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Van Daalen dari Aceh Utara dengan tujuan Gayo Lues. Sesampai di Takengon Van Daalen mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang sudah menyerah kepada Belanda. Van Daalen mengorek informasi dari tokoh-tokoh ini tentang Gayo Lues, mengenai jumlah penduduknya, jumlah kampung, kampung yang besar, kampung yang kecil, benteng pertahanan, jalan menuju ke sana dan sebagainya. Didapat informasi bahwa jalan ke Gayo Lues yang biasa dilalui adalah dari arah Takengon – Isaq – Waq – Lumut – Ise-Ise – Tembolon, lalu melewati Bukit Barisan menuju Gayo Lues. Tidak ada jalan lain, terkecuali lewat hutan belantara dari arah Jagong – Perok – Terangun. Jalan yang disebut terakhir ini sangat sukar dan jarang dilalui oleh manusia. Mendapat informasi ini lalu Van Daalen memerintahkan Kapten Colijn dibantu oleh Letnan G. J. H Van Steyn Van Hensbroek menerobos Gayo Lues. Rupanya tokoh masyarakat Takengon membocorkan rahasia ini dan secepat kilat memerintahkan utusan ke Gayo Lues supaya menunggu pasukan Belanda di Burni Tembolon, Burni Intim-Intim, dan Rerorohan. Kapten Colijn melangkahkan kaki menuju Gayo Lues, dengan pasukan besar dan bersenjata lengkap. Perjalanan dari Takengon sampai ke Ise-Ise boleh dikatakan aman-aman saja, tidak ada perlawanan yang berarti dari rakyat setempat, namun ketika memasuki daerah Tembolon, pasukan Colijn telah disambut dengan tembakan pejuang. Colijn tak gentar dan maju terus. Di tengah perjalanan menuju puncak gunung pasukan Colijn disambut dengan senjata pejuang yang tak disangka-sangka Colijn yaitu batu-batu besar, batang kayu besar, bergemuruh dari atas gunung. Pasukan Colijn yang kalang kabut, lalu diserbu pejuang. Terjadi perang tanding, pedang lawan pedang. Bedil, sudah hampir tidak dapat digunakan. Letnan Hensbroek dan 8 opsir beserta 45 serdadu mati. Colijn kembali ke Takengon melapor kepada Van Daalen. Van Daalen murka bukan kepalang dan menuding Kapten Colijn goblok dan pengecut, dan memerintahkan pasukan kembali ke Kutaraja melalui Beutong Aceh Barat.
Kekalahan Van Daalen ini tersiar luas di Kutaraja. Pucuk pimpinan militer Belanda di Kutaraja sangat murka dan malu, dan selama ini musuh-musuh Van Daalen sesama perwira semakin bergembira dan mengejek Van Daalen. Van Daalen semakin mengurung diri, malu menampakkan diri sebab asal kelihatan pasti diejek secara terang-terangan oleh sesama perwira.
“ADA KAWAN KITA, PANGKAT TINGGI, BADAN BESAR, WAJAH LUMAYAN GANTENG, PENAMPILAN MEMUKAU, SALAHNYA KALAH SAMA ORANG UTAN”
”APA GUNA WAJAH GANTENG, PANGKAT TINGGI, GAJI BESAR, KEDUDUKAN MENGGIURKAN, TAPI SALAHNYA PENGECUT”
Dan ketika diadakan jamuan makan akhir bulan di kantin khusus perwira, pernah ada spanduk terpasang di pintu dengan bunyi “PERWIRA YANG DIKALAHKAN OLEH ORANG UTAN DILARANG MASUK”
Bukan main sakit hati Van Daalen dan karena itu berkali-kali dia minta agar dia ditugaskan lagi mengalahkan Gayo Lues. Akhirnya luluh juga hati Van Heutsz selaku pucuk pimpinan militer di Aceh untuk mengabulkan permohonan Van Daalen ini. Dalam keadaan hati panas inilah Van Daalen berangkat ke Gayo Lues (catatan tersebut di atas dibuat oleh Kapten H. Colijn yang ditulis dalam bulletin akhir tahun 1902, dengan judul JEJAK LANGKAH TUAN BESAR (Van Daalen))
Dari uraian diatas kita baru faham, mengapa begitu gencarnya serangan, kritikan, caci maki terhadap Van Daalen, terhadap Van Heutsz, terhadap Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang dilancarkan oleh pers, oleh Parlemen Belanda, oleh dunia luar, namun ketiga orang ini seperti tidak tergoyahkan sama sekali. Mengapa usulan, resolusi dan sebangsanya yang ditujukan kepada Van Heutsz agar memecat Van Daalen tidak dihiraukan sama sekali, mengapa usulan yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal agar memecat Van Heutsz dianggap angin lalu. Rupanya mereka setali tiga uang, sudah bersekongkol, sudah ada MoU di antara ketiganya. Benar sejak usulan, resolusi, caci maki terhadap mereka, mereka anggap anjing menggonggong kafilah berlalu. Kita mau bilang apa lagi. Ini kenyataan, yang penting kita sudah faham.